Home >> Internasional >> 51 Tewas Pertempuran di Yaman
Militan Houthi menembakka senjata saat berlangsungnya perkumpulan suku untuk menunjukkan dukungan kepada gerakan Houthi di Sanaa
Militan Houthi menembakka senjata saat berlangsungnya perkumpulan suku untuk menunjukkan dukungan kepada gerakan Houthi di Sanaa

51 Tewas Pertempuran di Yaman

Bentrok Pasukan Presiden dan Pemberontak Syiah Houti

ADEN – Pertempuran sengit antara pasukan pemerintah dan pemberontak di Yaman utara dan barat menewaskan 51 orang, sementara upaya perdamaian baru sepertinya terbentur, kata para pejabat militer pada Rabu (16/11) waktu setempat.
Mereka mengatakan pasukan yang setia kepada Presiden Abedrabbo Mansour Hadi sejak Selasa (15/11) bentrok dengan pemberontak Syiah Houthi dan pasukan pemberontak sekutu di wilayah barat laut negara itu di dekat perbatasan dengan Arab Saudi.
Pertempuran berlangsung saat para loyalis melancarkan serangan di tiga fron untuk merebut kembali kota pesisir Midi dan kota terdekat Haradh, kata para pejabat itu.
Lima belas loyalis dan 23 pemberontak tewas dalam pertempuran, kata para pejabat itu.
“Operasi militer kami akan terus berjalan sampai kami memukul mundur mereka,” kata Kolonel Abdul Ghani al-Shubaili, yang pasukannya mendapat bantuan serangan udara dari koalisi pimpinan Arab Saudi.
Di tempat lain, sembilan pemberontak dan empat tentara tewas dalam pertempuran di luar kota bergolak Taez di wilayah barat daya Yaman, kata pejabat militer itu sebagaimana dikutip kantor berita AFP.
Pasukan pro-Hadi sudah maju ke arah kediaman presiden dan markas polisi di kota tersebut, keduanya dikuasai pemberontak, kata saksi mata, melaporkan pertempuran sengit dan ledakan keras yang mengguncang kota.
Pertempuran di Taez dan daerah sekitarnya pada Selasa merenggut 39 korban jiwa, termasuk lima warga sipil, 20 tentara dan 14 pemberontak menurut para pejabat militer.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan lebih dari 7.000 orang tewas dan hampir 37.000 terluka di Yemen sejak koalisi Arab melancarkan operasi militer pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah melawan pemberontak yang didukung Iran.
Sementara jutaan orang membutuhkan bantuan pangan, dan 21 juta lainnya sangat membutuhkan layanan kesehatan menurut PBB. (ant)