Kolaborasi Mamanda dan Musik Metal di Gelaran Rock In Borneo 2017


korankaltim
korankaltim
Koran Kaltim     1 month ago     572 kali
img KOLABORASI: Gelaran Rock In Borneo 2017 nantinya akan menyajikan nuansa tersendiri, yakni kolaborasi antara mamanda dan musik metal, sehingga akan terlihat lebih unik dan menarik.

ROCK In Borneo 2017 yang akan dilaksanakan pada tanggal 23 September nanti akan menjadi unik, tak seperti biasanya acara musik ini tidak akan menggunakan host didalamnya, melainkan menggunakan pementasan Mamanda sebagai pemandu acaranya.

Mamanda sendiri bentuk kesenian yang sejenis dengan wayang orang di daerah Jawa, bercerita dan dia serius, pakemnya tentang kerajaan dengan gaya melayu. Sedangkan dalam gelaran Rock In Borneo “Mamanda Etam Lestari”, kesenian ini harus bisa memandu acara dengan gaya yang tidak membosankan namun pesan dan nilai-nilai keasliannya tetap terjaga.

“Kita bangga dengan penampil dari luar negeri, padahal event kita adalah milik kita. Penampil dari daerah kita sendiri malah di kesampingkan. Hal ini sayang sekali karena sebenarnya seniman kita juga sanggup dan pantas diberikan kesempatan untuk tampil dalam pagelaran besar dan kelasnya internasional seperti Rock In Borneo 2017 ini,” ujar Zairin Zain, sutradara pementasan Mamanda Etam Lestari.

Pengiring dari Mamanda ini nanti adalah musik sendiri yang dipandu oleh Orkes Olah Gubang. Di dalamnya juga nanti akan ada jenis sastra bertutur milik kutai yang disebut Ladon. Dengan waktu persiapan tiga minggu namun baru intens di satu minggu terakhir ini. Dalam dua minggu pertama tim masih pada proses penyatuan visi dan penyusunan alur cerita. Dan latihan intensif dilaksanakan dalam satu minggu terakhir ini, hingga menuju acara.

“Tahun ini lebih deg-degan karena kita melakukan hal yang baru dan belum pernah dicoba sebelumnya. Seni tradisi etnik membawa sebuah konser musik rock. Kita merasakan kendala di pengaturan rundown acara serta cuaca yang tidak menentu karena area acara kita outdoor. Tapi selebihnya Alhamdulillah dilancarkan. Yah semangatnya sih tetap untuk mengenalkan dulu ke generasi milenial. Ini loh Kukar punya kesenian teater tradisional yang keren, dari situ pelan pelan nanti pasti cinta juga” ujar Akbar Haka Project Manager dari Rock In Borneo 2017.

Saat ditanya lebih lanjut, Akbar mengatakan jika tim dari Rock In Borneo ingin selalu membawa manfaat buat penontonnya, jika tahun lalu menggelar sholat berjamaah serta tausiah dan pembacaan maulid. Tahun ini penonton yang berjumlah puluhan ribu dan berasal dari penjuru Indonesia maupun Dunia pulang membawa cerita, jika Tenggarong memiliki seni teater tradisional yang bernama Mamanda. 

“Dulu kami selalu dibandingkan dengan festival musik lain yang levelnya internasional juga. Namun semenjak tahun lalu kami ingin menonjolkan identitas kami sendiri. Rock In Borneo akan tetap menjadi hari raya musik keras tapi tidak melupakan kearifan lokal lewat seni budaya serta nilai keagamaan yang memang kuat di Kutai Kartanegara. Namun perlu diingat, Rock In Borneo bukan hanya milik rakyat Kutai saja. Rock In Borneo merupakan acara yang patut dibanggakan oleh warga Kalimantan,” ungkap Akbar. (mfd/*)



loading...

baca LAINNYA

korankaltim
korankaltim
20 hours ago | dibaca 304 kali
img
korankaltim
korankaltim
20 hours ago | dibaca 314 kali
img