Perusda Ketenagalistrikan Berubah Jadi PT Listrik


korankaltim
korankaltim
Koran Kaltim     3 weeks ago     450 kali
img PRASASTI: Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak saat menandatangani prasasti sebagai tanda peresmian kantor PT Ketenagalistrikan Kaltim yang baru. (FOTO: RUSDI/KK)

SAMARINDA - Merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 15, Perusda Ketenagalistrikan Provinsi Kaltim, resmi melepas status badan hukum Perusahaan Daerah (Perusda) dan bertransformasi menjadi Perseroan Daerah (Perseroda), dengan nama PT Ketenagalistrikan Kaltim, atau disingkat PT Listrik Kaltim. Direktur Utama (Dirut) PT Listrik Kaltim Abdurahman Chered menjelaskan, setidaknya ada 2 alasan utama mengapa perubahan tersebut dilakukan.

“Pertama mengacu UU 23 Tahun 2014, juga berdasarkan tindaklanjut Perda Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perseroda Ketegalistrikan Kaltim. Nanti Perusda di Indonesia ada 2 jenis, yakni Perusahaan Umum Daerah (Perumda) dan Perseroda. Perumda itu seperti PDAM, yang tidak ditunjuk untuk profit (untung). Kalau Perseroda itu profit. Kedua, sesuai dengan tuntutan dinamika peluang usaha kita untuk mendapatkan modal lebih besar. Karena dari APBD kan kita tahu kondisi saat sekarang ini agak sulit, sehingga kita perlu mendapatkan dari pihak swasta, dengan PT itu lebih lincah dan lebih punya independensi,” ujar Abdurahman kepada Koran Kaltim usai mengikuti rangkaian HUT Perusda Ketenagalistrikan Kaltim ke 15, sekaligus launching perubahan badan hukum menjadi Perseroda dan peresmian kantor baru di Samarinda, Minggu (22/10) kemarin.

Ia memaparkan, sejak awal dibentuk pada 2002 silam, modal dasar berupa penyertaan modal dari Pemprov Kaltim yang awalnya Rp100 miliar dikelola dengan profesional.  Meskipun berbasis pelayanan atau pemenuhan infrastruktur, Perusda Ketenagalistrikan masih mampu menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), dengan presentase yang terus meningkat.

Ia membeber, dari modal awal Rp100 miliar tersebut kemudian direalisasikan sebanyak Rp96 miliar kepada anak perusahaan, yakni PT Cahaya Fajar Kaltim (CFK) pada 2003-2004 untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Embalut Kutai Kartanegara, dimana setoran awal sebagai kompensasi pembelian 96 juta lembar saham dengan harga Rp1.000  per lembar saham.

“Pada 2010 Pemprov memberikan tambahan modal sebanyak Rp30 miliar.  Dimana Rp4 miliar sebagai pemenuhan modal dasar, dan Rp26 miliar menjadi penambahan modal baru, jadi total modal dasar Perusda menjadi Rp126 miliar,” tuturnya.

Saat ini, lanjutnya nilai saham PT CFK yang tadinya Rp1.000 per lembar telah naik menjadi Rp3.201.  Jika dikalikan dengan jumlah saham 96 juta, nilanya sudah mencapai Rp307.296.000.000.  Nantinya modal awal Rp126 miliar itulah yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan usaha. “Jadi tidak menutup kemungkinan kita akan menjadi perseroan terbuka (TBK),” tukasnya.

Ia menyebut, selain kegiatan usaha pokok yakni PLTU PT CFK sebesar 110 megawatt, usaha penunjang juga dilakukan.  Misalnya kerjasama untuk pengoperasian pembangkit listrik tenaga biogas Desa Tabru Paser Damai Kecamatan Batu Engau, Paser. PLTU KIPI Maloy, kemudian rencana pengembangan listrik tenaga surya, serta kegiatan usaha jangka pendek lainnya.

“Dengan motto Shinning Better Tomorow, kami harap bisa memberikan pelayanan listrik kepada semua masyarakat Kaltim, dan tentunya ada peningkatan laba minimal 30 persen dari tahun sebelumnya.  Tahun ini sampai Oktober tercatat laba kami Rp7 miliar,” pungkasnya. (adv/rs)



loading...

baca LAINNYA