Budaya Wanita Bertelinga Panjang Harus Dilestarikan


korankaltim
korankaltim
Koran Kaltim     3 weeks ago     402 kali
img PELESTARI BUDAYA: Wanita suku Dayak menjadi pelestari budaya memanjangkan telinga yang menjadi ciri khas wanita suku Dayak.

MAHAKAM ULU - Dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-53, melalui Dinas Kesehatan (Diskes), Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), menggelar seminar lansia sehat dengan tema ‘Lansia Kuping Panjang Dipandang Dari Segi Sosiologis, Budaya, dan Medis’, yang dipusatkan di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kampung Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Rabu (14/11).

Seminar sehari itu antusias dihadiri oleh warga. Sebanyak 27 peserta Lanjut Usia (Lansia) wanita Dayak berkuping panjang dari lima kecamatan se-Mahulu, hadir sebagai peserta seminar. 

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Ketua Umum Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Mahulu Yovita Bulan Bonifasius Belawan Geh, didampingi Kepala Dinas Budaya dan Parawisata Mahulu Kristina Tening, Kepala Dinas Kesehatan Mahulu dr Agustinus Teguh Santoso, serta Ketua Dewan Adat Kabupaten Mahulu Yustinus Ibau Ului.

Ketua Umum TP-PKK Mahulu Yovita Bulan mengatakan, para lansia berkuping panjang merupakan warisan tradisi asli Suku Dayak Kaltim khususnya Mahulu. Untuk itu, warisan budaya asli tersebut perlu dijaga agar tidak hilang oleh globalisasi saat ini. Dia menyebut, dihadirkan langsung para wanita Dayak bertelinga panjang, sebagai motivasi bagi generasi muda Mahulu saat ini, agar dapat terus menjaga dan mewarisi budaya leluhur itu.

“Kegiatan ini sebagai motivasi bagi wanita dayak khusunya generasi muda perempuan Dayak Mahulu, sehingga tetap ada wanita berkuping (telinga) panjang yang bisa didambakan oleh masyarakat Mahulu pada masa depan,” ungkap istri Bupati Mahulu, Bonfasius Belawan Geh kepada wartawan, dalam keterangan pers di Ujoh Bilang.

Yovita Bulan juga meminta agar Dinas Pendidikan Budaya dan Parawisata Mahulu membuat aturan agar anak-anak nantinya yang membuat kuping panjang bisa tetap sekolah, dan tidak diejek atau dibully. 

“Karena anak-anak yang berkuping panjang tidak akan diterima di sekolah-sekolah, itu yang saya dengar dulu. Tapi sekarang saya tegaskan, anak-anak Dayak yang memiliki telinga panjang bisa sekolah seperti anak-anak lainnya. Dan itu akan menjadi suatu kebanggaan masyarakat Mahulu,” katanya.

Ditambahkan Yovita Bulan, di era moderen dan digital saat ini, diyakini tradisi wanita Dayak bertelinga panjang kurang diminati para remaja Dayak saat ini. Namun menurutnya hal itu bukan paksaan. Tetapi wanita Dayak, khususnya di Kabupaten Mahulu harus sadar, jika generasi muda saat ini tak melestarikan budaya memanjangkan telinga, maka pada dua puluh tahun kedepan budaya Dayak itu akan hilang dimakan zaman.

“Perlu kerjasama dari pelaku budaya (masyarakat generasi muda wanita Dayak), pemerintah, dan seluruh masyarakat agar berkontribusi menjaga dan menguatrkan tradisi ini. Mari kita lestarikan keunikan/kekayaan budaya Dayak Mahulu ini. Dalam seminar ini juga, para ahli medis menyatakan tidak berbahaya atau gangguan pada telinga yang kami datangkan menyatakan bahwa orang berkuping panjang tak ada gangguan kesehatannya,” tukasnya.

Sementara Ketua Umum Dewan Adat Mahulu Yustinus Ibau Ului, berharap agar setiap tahunnya ada perekrutan khusus generasi kuping panjang. Bahkan wanita muda Dayak saat ini juga bisa membuat kupingnya menjadi panjang. 

“Sebagai salah satu potensi destinasi daya tarik wisatawan lokal hingga manca negara datang berwisata budaya ke Mahulu,” tegasnya.

“Selama ini generasi wanita Dayak bertelinga panjang banyak dicari keberadaannya oleh wisatawan mancanegara. Potensi seni yang unik ini, Dewan Adat bersama Pemkab Mahulu akan bersinergi melestarikan generasi remaja Dayak untuk mengikuti jejak pendahulunya, agar kuping panjang tidak hilang di Mahulu,” harap Ibau Ului.

Kadiskes Mahulu dr Agustinus Teguh Santoso menerangkan, kegiatan ini merupakan bentuk peduli kepada lansia untuk memberikan pelayanan kesehatan khususnya lansia berkuping panjang. Dalam memperingati HKN tahun ini, Diskes Mahulu berkerjasama dengan Dinas Budaya dan Pariwisata mengundang dokter ahli THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan) untuk memeriksa indera para lansia berkuping panjang.

“Setelah diperiksa, kesimpulannya tidak ada perubahan yang berarti di antara lansia yang berkuping panjang dan tidak. Artinya apa ?, bahwa tradisi ini tetap bisa dipertahankan untuk dilanjutkan bagi generasi Suku dayak khususnya di Mahulu,” ungkapnya. (advertorial/imr) 



loading...

baca LAINNYA