Published On: Rab, Jul 24th, 2013

Antung Mukhtar Bantah Sejumlah Laporan

TARAKAN- Antung Mukhtar akhirnya dipanggil Komisi Fatwa untuk diajak berdiskusi dan berargumen terkait ajaran yang disebarkan ke masyarakat. Dipimpin oleh Ketua MUI Zainuddin Dalila, dengan moderator Syamsi Sarman dan disaksikan Asisten VI Pemkot Tarakan Wipraptomo Subagio, Antung sendiri datang bersama saudara, murid dan anaknya berjumlah 5 orang.
Diskusi yang dimulai pukul 10 pagi kemarin berlangsung hingga pukul 12 siang menjelang Salat Dzuhur di ruang Kenawai Pemkot Tarakan. Kemudian diskusi ditutup dengan Salat Dzuhur bersama, bahkan Antung Mukhtar pun turut ikut Salat Dzuhur.
Dalam diskusi ini terjadi perdebatan antara Komisi Fatwa yang diketuai Syahibuddin Ali dan Antung Mukhtar bersama 4 orang anggotanya, Antung sendiri tidak mengaku semua laporan yang diterima Komisi Fatwa adalah benar, bahkan pernyataan yang menyebutkan Antung melarang Salat juga dibantah.
“Saya bertasawuf dan bersyariat, saya tidak pernah mengajarkan kepada orang yang mau belajar kepada saya bahwa Salat wajib itu tidak boleh, itu fitnah. Saya pernah ke masjid, di Islamic Center sampai ke China dan Thailand saya pernah datang dan ke masjid. Di Tarakan juga saya pernah mau Salat, tetapi kata satpam saya tidak boleh masuk karena dilarang Pak Zainuddin Dalila,” ujarnya
Terkait tulisan yang dibuatnya berbentuk kitab atau diktat juga diakui Antung adalah tulisannya, tetapi kembali Antung membantah telah menulis terjemahan Alquran yang salah didalam catatannya.
“Kalau apa yang saya tuliskan adalah salah, saya minta Komisi Fatwa buatkan tulisan seperti saya dari yang benar untuk kita bandingkan. Saya minta bapak buatkan seperti yang saya buat. Saya menulis itu dengan menafsirkan ilmu yang saya dapat, dan tangan saya menulis tiada henti saya pun tidak tahu kenapa, dan saya baru tahu saya menulis setelah selesai,” katanya
Menurut Antung yang menurut informasi bernama asli Imam Mukhtar ini, ia menterjemahkan Alquran berdasarkan martabat ketujuh, dan menurut informasi lagi ajaran Antung ini disebut Martabat Ketujuh. Namun Antung kembali membantah telah melarang adzan seperti yang dilaporkan mantan muridnya ke Komisi Fatwa.
“Fitnah kalau ada yang mengatakan adzan tidak perlu karena mengundang perang, tapi ilmu  yang saya berikan kepada orang sudah benar,” pungkasnya
Ditanyakan tentang laporan masyarakat banyaknya PNS yang menjadi muridnya dibantah juga oleh Antung, dikatakannya pengikutnya hanya satu orang PNS yaitu Jamhari yang sampai saat ini masih menjadi PNS aktif.
Ketua MUI Tarakan Zainuddin Dalila juga membantah pernyataan dari Antung yang menyebutkan difitnah oleh MUI dengan mengadakan sidang terbuka termasuk membeberkan apa yang menurutnya salah ke media tanpa menanyakan dulu kepadanya.
“Pada tahun 1985, Antung sudah kami panggil, kemudian tahun 2008 juga sudah kita panggil, dalam pertemuan itu tidak ada orang lain dan hanya saya dengan Antung bersama Pak Jamhari muridnya. Cuma kali ini sudah salah, karena masih terus menyebarkan, jadi ditangani Komisi Fatwa,” tegasnya
Sementara itu, Ketua Komisi Fatwa Syahibuddin Ali ketika dikonfirmasi mengatakan dalam diskusi Antung dengan jelas membantah semua laporan yang masuk ke MUI, termasuk pernya-taan Antung mengajarkan untuk tidak Salat dan tidak perlu ke Masjid juga dibantah Antung.  (saf)

Bagikan Berita Ini

  • Facebook
  • Twitter
  • Blogger

About the Author

korkal99 - Berita koran harian di kalimantan timur, Kutai Kartanegara, Bontang, Samarinda, Balikpapan, Penajam Paser Utara, Berau, Bulungan, politik, pemilu, pilkada, kriminal, olahraga, ekonomi

Email
Print
WP Socializer Aakash Web