Breaking News
Home >> Akademika >> Asli Nuryadin: Tak Ada UKG Berbayar
asli nuryadin
asli nuryadin

Asli Nuryadin: Tak Ada UKG Berbayar

UKG dan Diklat Tingkatkan Kompetensi Guru

SAMARINDA – Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda Asli Nuryadin menegaskan bahwa tidak ada biaya yang harus dikeluarkan para guru untuk mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG), namun ia tidak menampik bahwa memang ada biaya yang harus dibayar untuk mengikuti Diklat Guru Pembelajar.
Ia menyampaikan, ada kesalahpahaman terhadap istilah UKG dan Diklat guru pembelajar. Ia menjelaskan keduanya memiliki konteks yang berbeda, dimana UKG merupakan pengujian untuk melihat sejauh mana tingkat kompetensi guru, sedangkan Diklat Guru pembelajar adalah upaya meningkatkan kompetensi dari hasil UKG tersebut.
“Setahu saya itu (UKG) tidak ada bayar, karena itu online tesnya. Setelah mereka ikut UKG, mereka dapat nilai. Nah berdasar nilai itu akan dilanjutkan dengan diklat guru pembelajar. Saya curiga yang disebut berbayar itu adalah Diklat Guru pembelajar,” ujarnya ditemui Koran kaltim Selasa (18/10) kemarin.
Menurut Asli, peserta UKG berasal dari guru yang berstatus PNS, maupun honorer. Khusus untuk honorer, ada syarat tertentu yang harus dimiliki untuk mengikuti UKG, salah satunya adalah datanya tercantum di Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Asli menuturkan, diklat guru dilakukan dalam rangka meningkatkan kompetensi sumberdaya guru, yang dalam penyelenggaraannya memang guru dikenakan biaya, pasalnya kegiatan tersebut dilaksanakan secara mandiri.
Sementara untuk kewajiban para guru mengikuti diklat tersebut, Asli mengatakan, hal itu kembali kepada pribadi masing-masing guru.
“Jadi model guru pembelajar itu, ada yang melalui P4TK, tapi itu sedikit. Jadi selebihnya dibebankan kepada APBD kabupaten/kota. Nah kita kan saat ini tidak punya dana, jadi ada inisiatif dari teman-teman guru, ya mereka siap membayar,” paparnya.
Selanjutnya, ia juga merasa senang karena bagi guru yang sudah mendapatkan tunjangan sertifikasi, mau menyisihkan sedikit, untuk dalam rangka meningkatkan kompetensinya. Sementara itu, bagi yang honorer, justru hal ini menjadi semacam penguatan.
“Kan tidak mungkin mereka main-main, kalau untuk mengikutinya harus bayar. Apalgi ini untuk meningkatkan kompetensinya mereka sendiri,” pungkasnya. (rs616)