Home >> Headline >> Awang: Awasi Masjid Penyebar Paham Radikal

Awang: Awasi Masjid Penyebar Paham Radikal

BKPRMI Kaltim Tagih Gubernur Beber Nama Masjid

BALIKPAPAN – Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengatakan di Kaltim terdapat sejumlah masjid yang dijadikan tempat penyebaran paham radikalisme, dan mengarah pada tindakan terorisme. Di mana, terdapat kelompok kecil yang memanfaatkan sarana rumah ibadah untuk menyebarkan paham radikalisme, bahkan ada yang dilakukan secara terang-terangan melalui khotbah.
“Kita sudah catat dan orang-orang itu sudah terdata dan perlu diwaspadai. Banyak pemikiran radikal yang mereka kembangkan. Biasanya diskusi mereka jadi awal terjadinya terorisme,” kata Awang.
Menurutnya, pernyataan tersebut bukanlah isapan jempol belaka. Tapi sudah terbukti dengan terjadinya peledakan bom molotov di Gereja Oikumene, Sengkotek, Loa Janan Ilir, Samarinda, Ahad (13/11) lalu. “Kaltim yang aman dan damai, justru terjadi peledakan bom di Gereja Oikumene. Korbannya anak kecil, itu sangat disayangkan,” ucapnya.
Tak hanya itu, Awang juga secara tegas menyatakan bahwa masjid yang dicurigai sebagai basis penyebaran paham radikalisme sudah diawasi. “Di daerah sudah ada kantor agama. Kalau ada masjid yang selalu menyebarkan paham radikal, pasti kita peringatkan,” akunya.
Sementara itu, Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin tak menampik adanya aktivitas penggunaan masjid sebagai tempat penyebaran paham radikalisme. “Dalam aturan undang-undang belum mengatur tentang aktivitas tersebut. Kita berharap ada revisi undang-undang yang bisa menjerat tindakan tersebut,” tambah Kapolda.
Sementara itu, Ketua Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kaltim, Sabran mendesak Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak membeber nama masjid yang diduga ajarkan radikalisme.
“Gubernur harus beber data masjid ajarkan radikalisme. Kami berharap segera bertindak dan tak sekadar komentar saja,” tagih Sabran, malam tadi
Dia menilai, dengan pernyataan Awang bisa memunculkan persepsi berbeda di masayarakat. Seperti membuat warga takut dan malas ke masjid.
“Misi BKPRMI Kaltim membawa remaja dan pemuda kembali ke masjid. Kalau pak Awang bicara akan bertindak. Kapan niat itu diwujudkan,” tegasnya.
Sabran menjelaskan, masjid harus dibuat ramai dengan kegiatan ibadah dan keagamaan. Namun, tidak justru membuat masyarakat takut karena pengawasan dimaksud Awang, karena ada ajaran radikalisme. “Kalau mau adil, seharusnya yang diawasi tak hanya masjid, semua rumah ibadah harus diawasi, termasuk tempat maksiat di Kaltim,” terangnya.
Sabran juga menilai, “Aneh jika hanya masjid yang diawasi. Apakah umat Islam terlalu parah, kenapa tak mengajak orang-orang masuk masjid dan beribadah bersama. Pola pikir gubernur perlu diingatkan soal masjid di Kaltim. Kami pesan ke gubernur, masih banyak lokasi maksiat yang buka dan wajib ditutup, jangan hanya serimonial penutupan, tapi harus diawasi. Itu wajib ditindak,” pintanya. (yud/man)