Breaking News
Home >> Headline >> Awang Bantah Melarang ke Jakarta
Awang Faroek (tengah) saat bertemu DPRD Kaltim di lantai 6 karang paci, senin (28/11).
Awang Faroek (tengah) saat bertemu DPRD Kaltim di lantai 6 karang paci, senin (28/11).

Awang Bantah Melarang ke Jakarta

Terkait Aksi Bela Islam Jilid III di Monas

SAMARINDA – Gubernur Awang Faroek Ishak mengaku tak melarang warga Kaltim untuk ikut aksi bela Islam jilid III di kawasan Tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta, pada Jumat (2/12) mendatang. Hal itu diungkapkan saat unjuk rasa Aliansi Kerukunan Umat Kaltim di Kantor Gubernur dan DPRD Kaltim, Senin (28/11).
“Sebagai Gubernur Kaltim, saya tidak melarang warga Kaltim berangkat ke Jakarta. Tapi, jika terjadi sesuatu dan berkaitan dengan aparat hukum, saya tidak bertanggung jawab,” tegas Awang, kemarin.
Bahkan, Awang mengatakan gubernur mempunyai hak untuk menjaga situasi dan ketahanan daerah Kaltim. Meski diakui, pada 23 November lalu, Awang hadiri pertemuan dengan tokoh masyarakat dan tokoh adat serta tokoh agama di Makodam IV/Mulawarman sesuai maklumat Panglima TNI serta maklumat Kapolri ke Polda Kaltim.
“Saya Gubernur Kaltim berharap tidak ada warga yang ke Jakarta karena ada maklumat Kapolri. Kami tidak melarang orang berangkat ke Jakarta untuk melakukan aksi. Kalau ada Umat Islam yang berangkat ke Jakarta dan nantinya berhapan dengan aparat bukan urusan saya,” ungkap Awang saat rapat bersama DPRD Kaltim di lantai 6 Karang Paci, kemarin.
Meski suasana hujan lebat, nampaknya tak mengurungkan niat pendemo menuntut klarifikasi Awang Faroek atas pernyataan melarang warga Kaltim tersebut. “Kami berharap, apa yang disampaikan bisa diterima dan gubernur sudah klarifikasi atas masalah larangan ke Jakarta. Kita semua sudah mendengar jelas, tak melarang,” ucap Korlap Aksi, Yoyok Setiawan kepada Koran Kaltim, disela aksi, kemarin
Yoyok juga menambahkan, meski aksi dengan hujan-hujan, peserta aksi tetap semangat. Karena, komitmen mengawal aspirasi terkait nama baik Islam. “Aksi ini untuk mengingatkan gubernur agar tidak buat pernyataan yang menyinggung umat Islam,” jelasnya.

Dua Toples Koin untuk Beli Gedung RSIS

Masih dalam rangkaian aksi, juga dilangsungkan penyerahan koin yang terkumpul dari aksi solidaritas karyawan dan direksi Rumah Sakit Islam Samarinda (RSIS). Dalam aksi kemarin, massa juga menyerahkan sejumlah koin yang tujuannya untuk membeli gedung bekas RSU yang kini digunakan RSIS. Hanya saja, sejak 16 November lalu, RSIS tak beroperasi lagi, lantaran izin operasional rumah sakit tersebut tak diperpanjang, menyusul dicabutnya hak pakai atas gedung tersebut.
“Soal RS Islam, kami sadari sangat diperlukan masyarakat. Hanya saja, Dirut RSUD AWS terlalu proaktif membahas masalah ini,” kata Syahrun saat rapat bersama Gubernur Kaltim di lantai 6 gedung DPRD Kaltim, kemarin.
Syahrun menjelaskan, pro-aktifnya Dirut AWS akhirnya pengaruhi karyawan RSIS, sehingga terpecah belah, sementara Gubernur Kaltim berpihak ke RSUD AWS. Syahrun akrab disapa H Alung yakin pihak RSIS saat diajak diskusi mencari solusi, akan sangat setuju. Sebab, MUI dan DPRD Kaltim hadir dan diskusi cukup diterima.
“Nah sekarang mereka bukan lagi membawa nama Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsi). tapi atas nama Aliansi Kerukunan Umat. Salah satu tuntunan mereka menolak peralihan RSIS ke RSUD AWS dan memberi amanah menyampaikan koin dua toples untuk membeli lahan RSIS Samarinda. Ini bentuk kekecewaan mereka ke Pemprov,” terang Syahrun
Sementara itu, anggota DPRD Kaltim, Siti Qomariah pertayakan hal tersebut ke Gubernur Kaltim dan berharap memikirkan nasib karyawan di RSIS agar nasib mereka tak dipertaruhkan.
“Soal proses hokum, semua sepakat, yang menjadi masalah sekarang, karyawan terpecah dua kelompok. Hal lain, warung di sekitar tutup dan merugi, yang lebih parah lagi, pelayanan masyarakat tidak bisa dilakukan,” ucapnya.
Penanggung jawab aksi, Mudiyat Noor menambahkan, pihaknya tetap mengacu pada tuntutan disampaikan ke gubernur dan DPRD Kaltim. “Kami sudah serahkan tuntutan dan koin ke DPRD Kaltim, nantinya akan diserahkan ke Gubernur Kaltim,” sebut Mudiyat. (man)