Bakso Wisma Citra: Cita Rasa Bakso 43 Tahun

0
36
JATUH BANGUN: Setelah puluhan tahun menggeluti usaha kuliner bakso, Hj Sumiyati kini mulai merasakan kesuksesan dengan membuka sejumlah cabang (tedy/kk)

TENGGARONG – Dimulai pada 1973, Sumiyati dan sang suami, Gianto selalu setia mendorong gerobak baksonya di sepanjang jalan Samarinda. Seakan tanpa beban, mereka memikul dagangan baksonya berkeliling kota Bontang sampai tahun 1976, namun tak bertahan lama, pada tahun 1978 mereka berdua menjadikan kota Tenggarong sebagai tempatnya menetap sampai sekarang.
“Pertama buka di sekitar SMAN 1 Tenggarong masih pakai gerobak dorong, lalu pindah ke Jalan Maduningrat ini,” kata Sumiyati, pemilik warung makan Bakso Wisma Citra kepada Koran Kaltim Selasa (22/11) kemarin.
Asal usul nama Wisma Citra didapatkan karena dulu dia dan sang suami berjualan di sebelah bioskop Wisma Citra yang ada di Jalan Maduningrat. “Bioskopnya sudah dibongkar, tapi kami tetap menggunakan namanya sebagai nama warung makan kami,” ujarnya.
Ada cerita menarik pada saat dulu dia dan suaminya mulai membuka usahanya di Kota Raja. “Orang Tenggarong dulu agak takut untuk makan pentol bakso. Mereka mengira pentolnya terbuat dari daging yang tidak lazim. Tapi setelah tahu kalau pentolnya dari daging ayam, mereka akhirnya mulai datang dan menyukai bakso kami,” katanya.
Dia juga mengatakan dengan anggapan awal yang negatif seperti itu tak menyurutkan semangat mereka membuka warung makan bakso.
Gianto dan Sumiyati, pemilik rumah makan Bakso Wisma Citra kini berhasil mengembangkan usahanya sampai dia memiliki rumah permanen dan memiliki tiga cabang warung makan di sekitar kota Tenggarong.
Sekarang usahanya telah memiliki berkembang di sekitar kota Tenggarong dan memiliki sebelas pekerja. Sumiyati mengatakan bahwa pendapatannya melalui bisnis kuliner ini rata – rata sekitar Rp. 3 Juta dalam sehari. “Kami biasa buka jam 9 pagi sampai jam 10 malam, jika buka sedikit lebih pagi atau tutup lebih malam, bisa lebih dari Rp. 3 juta,” jelasnya.
Dalam menjalankan usahanya, ibu Sumiyati tidak pernah merasa terepotkan oleh usahanya tersebut. “Ulet, Kerja Keras dan jangan pernah merasa terepotkan oleh usaha yang didirikan,” katanya. Beliau juga berpesan kepada para pengusaha muda untuk bersabar dalam menjalankan usaha. (ted1116)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here