Beras Basah Hanya Diganti Alun-alun

0
3
BAKAL DITUTUP : Kawasan Beras Basah memang memiliki potensi wisata yang cukup menjanjikan. Namun, sayang jika rencana penutupan kawasan ini benar-benar terlaksana. Bontang perlu kawasan wisata yang dapat diandalkan sebagai ganti kawasan ini

BONTANG – Desas – desus penutupan Pulau Beras Basah memasuki babak baru. Pulau yang biasanya dijadikan tempat tujuan wisata itu dikabarkan akan ditukar dengan alun – alun atau taman kota.
Ketua Komisi II DPRD Ubayya Bengawan mengaku, secara pribadi dia menganggap solusi tukar guling Pemkot Bontang dengan PT Badak NGL ini lebih baik, menurut kabar yang beredar, lahan milik operator Pertamina yang berada di Jalan Cipto Mangunkusumo (Eks Pupuk Raya) itu bakal dibangun alun-alun.
“Karena solusi yang ditawarkan cukup masuk akal, maka tentu ini jadi pertimbangan,” ungkapnya.
Ubayya mengharapkan, meski Beras Basah benar-benar ditutup, tetapi harus ada perhatian khusus dari Pemkot Bontang kepada masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya di sana. Dia meminta ada solusi lain agar mata pencaharian mereka tidak terputus.
“Soal solusi itu sepenuhnya di tangan pemerintah. Sepanjang solusi yang ditawarkan untuk kepentingan yang lebih besar tentu akan jadi pertimbangan. Hanya saja poin penting juga ada masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya disana, harus jadi perhatian sehingga tidak kehilangan mata pencaharian,” ungkapnya.
Sebelumnya, Ubayya sempat bersuara keras ketika rapat dengar pendapat (RDP) dengan Dinas Tata Ruang Kota, Badan Perencana dan Pembangunan Daerah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Perhubungan, Syahbandar serta PT Badak NGL. Dalam rapat membahas Beras Basah itu, Ubayya mempertanyakan minimnya data wisatawan di pantai tersebut.
“Jumlah wisatawan datanya ada tidak? Ini yang perlu semua kita tahu, lalu informasi yang kita dapat saat ini kumuh, lalu penertibannya seperti apa? Kemudian ada simpang siur kepemilikan. Ada yang bilang PT badak , seperti apa sih sebenarnya,”ujar Ubayya.
Kepala Bidang Pariwisata Disbudpar Jayadi Pulung menjawab, sebenarnya sejak tahun 2009 pihaknya telah melakukan kajian di pulau tersebut sebagai kawasan objek wisata. Pada 2010, Disbudpar mulai melakukan pembangunan sarana dan prasarana. Sampai saat ini pihaknya telah menggelontorkan dana sebesar Rp 1,5 miliar untuk mempermudah masyarakat yang hendak berlibur di pulau tersebut.
“Dulu kawasan wisata terbatas, jadi kami bangun WC, mushola, gudang, da lapangan voli, hanya kebutuhan pokok. Tapi tahun 2013 kami tidak lagi membangun, karena pertemuan kami pada saat itu dengan DPRD dan PT Badak tidak menginginkan beras basah untuk untuk dibangun, karena jembatan masuk itu dibangun oleh PT Badak,” urainya.
Penutupan Beras Basah memang terus mengemuka. Dalam RDP itu, mulai dicari beberapa opsi pengganti bila kawasan wisata itu benar-benar ditutupkan. Tetapi, mayoritas wakil rakyat masih menolak rencana penutupan tersebut. (ram914)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here