Home >> Ekonomi kaltim >> Berhenti Bekerja untuk Wirausaha
DIMINATI: Usaha kuliner angkringan Heri yang kini semakin diminati pelanggan (tedy/kk)
DIMINATI: Usaha kuliner angkringan Heri yang kini semakin diminati pelanggan (tedy/kk)

Berhenti Bekerja untuk Wirausaha

BEKERJA di suatu perusahaan bagi sebagian orang adalah suatu keinginan atau bahkan suatu impian yang berusaha diraih. Selain mendapat penghasilan yang pasti setiap bulannya, bekerja di suatu perusahaan dianggap memiliki pengalaman tersendiri bagi para pelakunya. Tapi bagaimana jika mereka harus keluar dari perusahaan karena suatu sebab?. Beberapa orang tidak akan ambil pusing, mereka beranggapan bisa mencari pekerjaan lain atau membuka usaha sendiri sebagai jalan keluar dari dunia pengangguran.
Heri contohnya, pemilik usaha angkringan di Tenggarong ini berhenti dari perusahaan setelah enam tahun bekerja. “Berwirausaha itu lebih bisa dinikmati walaupun lebih merepotkan,” kata Heri kepada Koran Kaltim Minggu (20/11). Baru membuka usahanya selama lima bulan, Heri sudah merasakan bagaimana susah dan nikmatnya berwirausaha. “Bulan pertama membuka usaha, masih belum merasakan keuntungan yang masuk ke kantong. Alhamdulillah untuk saat ini sudah cukup menguntungkan,” ujarnya.
Selain Heri, ada pula Rahim yang terpaksa harus berhenti dari pekerjaannya karena suatu kecelakaan lalu lintas. “Awalnya saya syok karena harus berhenti bekerja, tapi apa boleh buat,” ujarnya. Menjadi pengangguran selama beberapa bulan, Rahim mencoba usaha kuliner seperti tela – tela yang kini berkembang menjadi angkringan yang banyak di datangi oleh kaum muda mudi.
Rahim mengatakan bahwa mengubah pola pikir karyawan menjadi wirausahawan itu susah sekali. “Yang awalnya kita bekerja karena suatu tugas dari atasan, kini setelah berwirausaha, kita harus bekerja agar bisa makan keesokan harinya. Itu susah mengubahnya,” ungkapnya. Dia juga menambahkan bahwa untuk membuka suatu usaha kita harus niat.
Heri menjelaskan dalam menjalankan suatu usaha, khususnya kuliner, para pemilik usaha harus bersedia direpotkan dan selalu menjaga kepuasan konsumen. Hal inipun disetujui oleh Rahim, karena perbedaan watak konsumen bisa membuat pemikiran si pemilik usaha menjadi berkembang. (ted1116)