Dipublish: 2 April 2013, 21:35

Dinkes Ciptakan Topi Anti DBD

Berantas Nyamuk Aedes Aegypty

TARAKAN – Berbagai cara dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan untuk menekan penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Mulai pengasapan atau fogging hingga bubuk abate, namun Tarakan masih dinyatakan endemis DBD. Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pun berinovasi untuk mencegah nyamuk Aedes Aegypty berkembang biak. Yaitu dengan memperkenalkan topi anti DBD, inovasi dari adaptasi model serupa di India.

Kepala Seksi P2PL Dinkes Tarakan, dr Hj Tri Astuti Sugiyatmi, mengungkapkan banyak warga Tarakan menampung air hujan, karena mendapat sumber air bersih cukup sulit. Sementara drum atau profil tank penyimpan air hujan adalah tempat favorit nyamuk bertelur. Kemudian menyebarkan jentik yang akhirnya menjadi nyamuk dewasa. Menutup tempat penampungan air dengan topi anti DBD, maka nyamuk tidak bisa masuk untuk berkembang biak

Pengembangan topi anti DBD didapat dari pelatihan manajemen DBD oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Februari 2012. Diakui mirip dengan yang diterapkan di India, bedanya di India menggunakan insektisida khusus, sedangkan di Tarakan tidak.

Kondisi di Tarakan hampir sama dengan di India, sehingga topi anti DBD dipandang sesuai digunakan. Meski efektivitas topi anti DBD belum diteliti secara spesifik atau studi akademis terukur dapat memutus mata rantai perkembangbiakan jentik nyamuk dan Angka Bebas Jentik (ABJ), secara mampu mencegah masuknya nyamuk dewasa masuk ke penampungan air. “Topi ini terbuat dari jala halus seperti kelambu yang dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai topi berkaret elastis,” papar Tri Astuti.

Tri Astuti melanjutkan, nyamuk dewasa tidak akan mampu menempatkan larvanya. Sebab cara kerja topi anti DBD adalah mencegah nyamuk berkembang biak. ”Meskipun air hujan bisa masuk ke dalam penampungan namun nyamuk DBD tidak bisa, karena lubang jalanya begitu kecil,” imbuhnya.

Diharapkan topi anti DBD bisa dikembangkan di Tarakan sebagai daerah pertama di Indonesia menerapkan model pencegahan menggunakannya. Tidak sulit mendapatkan bahan baku pembuatanya, jenis kain apa saja bisa digunakan. Sehingga harganya tidak terlalu mahal. Ukuran topi anti DBD dapat disesuaikan ukuran mulut penampungan air.

Berdasarkan data dari Dinkes, sepanjang Januari hingga Oktober 2012 terjadi 239 kasus DBD dengan empat penderita meninggal dunia. Penyebaran DBD di Tarakan hampir terjadi di 20 kelurahan yang ada, saat ini masih berstatus endemik. (Yan313)

Bagikan Berita Ini

  • Facebook
  • Twitter
  • Blogger