Breaking News
Home >> Headline >> Dua Polisi Positif Narkoba
TES URINE: Kapolres Tarakan AKBP Dearystone Supit menyerahkan hasil urinenya kepada salah seorang petugas BNN Tarakan.
TES URINE: Kapolres Tarakan AKBP Dearystone Supit menyerahkan hasil urinenya kepada salah seorang petugas BNN Tarakan.

Dua Polisi Positif Narkoba

225 Personil Polres Tarakan “Dipaksa” Kencing

TARAKAN – Sebanyak 225 orang personel Polres Tarakan dites urine mendadak, Senin (21/11). Tidak hanya personel tingkatan bawah, jajaran perwira sampai Kapolres Tarakan AKBP Dearystone Supit beserta Wakapolres Kompol Rizki Fara Shandy, juga turut menjalani tes urine .
Tes urine ini merupakan kerja sama Polres Tarakan dan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tarakan. Hasilnya, dua personel terindikasi positif urine mengandung metamphetamine dan tiga orang lagi positif dites awal dan negatif dites kedua. “Yang positif dua orang, itu nanti akan disidang disiplin, kemudian yang tiga orang terindikasi, nanti lain waktu akan dicek lagi. Sementara, mereka akan mendapatkan tindakan disiplin,” ujar Dearystone.
Sanksi seperti apa yang dijatuhkan untuk kedua personel ini, Kapolres menyebutkan tergantung dari keputusan sidang nantinya. “Kita berikan tes urine ini untuk membersihkan internal. Tes urine ini akan dilakukan sewaktu-waktu, bukan berkala, kan kalau terjadwal nanti mereka bisa mengantisipasi,” tegasnya.
Personel yang urine positif ini, tercatat sebagai anggota Satuan Sabhara dan Satuan Lalu Lintas berpangkat Bripda berinisial G dan F . “Nanti akan diperiksa dulu, kapan saja dan berapa lama pemakaiannya. Tes ini, sasarannya pengguna, kalau memastikan dia terlibat dalam jaringan jika tertangkap nanti seperti satu orang kita proses,” ungkapnya.
“Apabila terlibat sebagai pengedar, atau membantu peredaran narkoba akan kita proses pidananya, kalau ini kan kita proses disiplin saja,” tegasnya.
Dearystone menambahkan, personel yang tertangkap Satuan Reskoba Polres Tarakan, belum lama ini sudah dalam proses pidana umum, tapi masih menjalani pemeriksaan. “Kalau sidang kode etiknya, setelah menyelesaikan pidana umumnya baru putusan hukumannya di pengadilan seperti apa, baru kita laksanakan kode etik. Semua kemungkinan dipecat pasti ada,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Seksi Propam Polres Tarakan, I Wayan Suabe menambahkan sebelum menja-tuhkan hukuman disiplin masih akan dilakukan pemberkasan. “Jadi kita berkas dengan saksi-saksi, setelah siap baru Kapolres buatkan Surat Perintah Sidang dan kita laksanakan. Masalah nanti sanksi dan hukumannya tergantung pada hasil sidang,” kata dia.
Jika hanya pengguna ke-mungkinan akan diberikan hukuman penetapan khusus, variasi bisa tiga hari, seminggu, 14 hari di sel sampai 21 hari. “Kalau rehabilitasi tergantung permin-taan yang bersangkutan dan keluarga. Tapi, sebelumnya sudah ada dua orang yang kita rehabilitasi di Panti Rehabilitasi di Samarinda dan Polres Tarakan baru pertama kali ini melakukan rehabilitasi,” tutupnya. (saf)