Home >> Gaya hidup >> Festival Kacang Tak Biasa di Bengaluru
FESTIVAL kacang di India.
FESTIVAL kacang di India.

Festival Kacang Tak Biasa di Bengaluru

Warga Ramai-ramai Bawa Kacang Tanah ke Kuil Abad ke-16

JAKARTA – Bengaluru di India selama ini dikenal sebagai kota pengembangan teknologi tinggi. Namun, pada Senin (28/11), kota yang sebelumnya bernama Bangalore itu menghelat acara besar tahunan yang sama sekali berbeda. Anda mungkin traveler, bisa jadi penasaran.
Warga yang menganut agama Hindu merayakan festival kacang yang bernama Kadalekai Parishe. Pada Senin terakhir bulan Kartik dalam penanggalan Hindu, ratusan petani berdatangan ke Nandi Temple di Basavanagudi, Bengaluru.
Mereka membawa kacang tanah yang baru dipanen dalam karung goni besar ke kuil abad ke-16 yang sering juga disebut candi banteng. Acara intinya ialah memberikan persembahan kepada dodda basava, patung banteng raksasa setinggi empat meter perwujudan Nandi, tunggangan Dewa Siwa dalam mitologi Hindu.
Selanjutnya, kacang yang tersisa ditumpuk berjajar pada trotoar dan jalan sekitar candi untuk dijual dalam festival yang berlangsung selama dua hari. Lalu lintas di jalan terdekat sengaja ditutup agar penduduk bisa turut menikmati festival dan membeli kacang langsung dari petani.
Selain hasil tani berupa kacang mentah, kacang dijual dengan cara direbus, dipanggang, atau diasinkan. Di bawah kanopi yang disangkutkan pada pohon-pohon tinggi, para peserta festival menjajakan banyak makanan ringan populer lainnya.
Beberapa di antaranya adalah puffed rice khas India, fried bonda yang terbuat dari kentang, penganan pedas bhaji, jus tebu, dan manisan tradisional jalebi. Suasana sangat meriah oleh ramainya para pedagang yang berjualan berbagai macam barang seperti potret para dewa, balon, gelang kaca, pernak-pernik plastik, sampai tanaman pot terakota.
Menurut sejarah, ziarah tahunan ini sudah berusia sekira 500 tahun dan memiliki asal-usul yang melegenda. Dahulu, seekor banteng kerap datang merusak ladang petani tiap malam purnama tapi makhluk tersebut tak lagi merusak setelah warga berdoa dan memberikan persembahan berupa hasil panen kacang. (rol)