Home >> Sportainment >> Fidel Castro Bangkitkan Olahraga Kuba
SANGAT PEDULI: Kepergian Fidel Castro diratapi insan olahraga di Kuba.
SANGAT PEDULI: Kepergian Fidel Castro diratapi insan olahraga di Kuba.

Fidel Castro Bangkitkan Olahraga Kuba

PENINGGALAN yang terkenang dari kehadiran Fidel Castro sebagai pemimpin rakyat Kuba bukan hanya revolusi 1959. Pascarevolusi, pria yang wafat dalam usia ke-90, merupakan sosok di balik kebangkitan dunia olahraga Kuba.
Seperti dilansir ESPN, keberhasilan revolusi yang dipimpin Fidel Castro pada 1959 silam juga berimbas pada peningkatan prestasi olahraga negara itu, terutama dalam Olimpiade.
Keikutsertaan pertama Kuba dalam Olimpiade di bawah Fidel Castro adalah saat Olimpiade 1960 di Roma, Italia. Tak ada medali yang disumbang kontingen Kuba yang terdiri atas 12 atlet tersebut.
Namun, peningkatan demi pe­ningkatan terjadi di Olimpiade selanjutnya. Pada Olimpiade selanjutnya, 1964 di Tokyo, dari 27 atlet dalam kontingen Kuba ada satu medali perak yang didapat.
Setelah kegagalan di Olimpiade 1960, pada 1961, pemerintahan Kuba yang dipimpin Castro menciptakan Institut Olahraga Nasional, pendidikan fisik, dan rekreasi. Institut itu dibangun untuk mempromosikan olahraga kepada anak, orang dewasa, bahkan orang tua. Program negara itu pun sejalan dengan penambahan kualitas fasilitas olahraga, perlengkapan, serta penelitian dalam keilmuan olahraga.
Empat tahun selanjutnya di Me­xico City, Kuba mendapatkan empat medali perak dari 115 atlet dalam kontingen di Olimpiade 1968. Di Munich–saat itu Jerman Barat–Kuba berhasil merebut tiga medali emas. Selain itu satu medali perak dan empat medali perunggu dari 137 atlet membuat kontingen Kuba mberada di peringkat 14 perolehan medali Olimpiade 1972.
Jumlah perolehan medali itu mengingkat lagi di Olimpiade 1976 Montreal, Kanada, dan Olimpiade 1980 Moskow, Rusia. Pada 1976 Kuba mendapat enam medali emas, empat medali perak, dan tiga medali perunggu. Kemudian di Rusia-yang saat itu Uni Soviet–Kuba meraih 20 medali yang terdiri atas delapan medali emas, tujuh medali perak, dan lima perunggu.
Di dua gelaran selanjutnya, Kuba bersama aliansi negara sosialis seperti Uni Soviet dan Jerman Timur memutuskan untuk memboikot Olim­piade 1984 dan 1988. Kuba baru kembali lagi ikut Olimpiade di Barcelona pada 1992 silam. Absen di dua gelaran, membuat Kuba memberi kejutan. Kontingen atlet negara itu menyumbang 31 medali (14 emas, enam perak, dan 11 perunggu) se­hingga finis di tempat kelima.
“Olahraga di negara kita bukanlah sebuah instrumen politik, tetapi olahraga di negara kita ini sendiri berkonse­kuensi pada revolusi,” kata Fidel Castro saat menyambut kontingen atlet Kuba dari kejuaraan multi­olahraga untuk kawasan Amerika Te­ngah dan Karibia pada 1996 silam.
Fidel Castro sendiri bukan tanpa sebab mendukung pengembangan prestasi olahraga Kuba. Pasalnya, pria yang terpengaruh ajaran Mar­xisme-Leinisme itu terpilih menjadi atlet terbaik di SMA-nya, Belen, pada 1945. (cnc/mar)