Home >> Kutai Kartanegara >> Gaji Tiga Tahun Belum Dibayar, Diceraikan Istri
TETAP TEGAR: Ayie Supriansyah duduk di dalam mes Perusda Tunggang Parangan. Ia diceraikan istri akibat tak menerima gaji dari perusahaan tempatnya bekerja.
TETAP TEGAR: Ayie Supriansyah duduk di dalam mes Perusda Tunggang Parangan. Ia diceraikan istri akibat tak menerima gaji dari perusahaan tempatnya bekerja.

Gaji Tiga Tahun Belum Dibayar, Diceraikan Istri

Nasib Pilu OB Perusda Tunggang Parangan

NASIB Ayie Supriansyah sungguh pilu. Gara-gara gajinya sebagai office boy (OB) di Perusda Tunggang Parangan tak kunjung dibayar, ayah satu anak ini diceraikan istrinya.
Ayie menjalin rumah tangga sejak 2011. Ia tinggal menumpang di rumah mertuanya, di kawasan Jembayan, Loa Kulu.
Dua tahun berjalan, perusahaan tempatnya bekerja tiba-tiba dihadap-kan dengan masalah keuangan. Gaji puluhan karyawan menjadi tidak jelas.
Awalnya, istri Ayie bisa menerima kenyataan itu. Tapi lama-kelamaan, ia mulai berubah. Ayie kemudian diusir dari kediaman mertuanya. “Saya diusir 2013 lalu, tapi cerainya baru setengah tahun ini,” kata Ayie.
Sejak saat itu, Ayie menjadi penghuni tunggal di mes karyawan Perusda TP. Mes yang jauh dari kata layak. Atap dan pintunya rusak. Ia kerap terjaga apabila hujan di malam hari.
“Saya berusaha ngomong baik-baik ke istri, dengan pertimbangan anak masih kecil buat apa berpisah, namun istri tetap keukeh tidak mau melanjutkan. Istri saya bilang, tidak sanggup lagi dan anak perlu susu. Saya diminta meninggalkan rumah, barang-barang saya sudah dikemasi,” ungkap Ayie berlinang air mata.
Ayie kala itu sempat mengiba, namun istrinya tetap ngotot untuk berpisah. Bahkan sakit hernia yang diderita Ayie tak membuat istrinya berubah pikiran.
Kejadian itu tak mudah dilupakan Ayie. Ia merasa dicampakkan. Ayie bingung harus mengadu kepada siapa karena kedua orang tuanya sudah meninggal.
Setelah bercerai dengan istri, Ayie berusaha keras hidup seorang diri. Ia mulai melakukan pekerjaan lain. Mulai menjadi tukang bersihkan ikan untuk bahan baku amplang di Samarinda hingga berjualan opak keliling ia lakukan dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
“Kalau sekarang jualan tahu tek-tek milik orang di Tenggarong Seberang. Saya mendapatkan upah 25 persen dari penjualan,” akunya.
Ayie berharap gajinya selama tiga tahun segera dibayarkan oleh mana-jemen Perusda TP. “Gaji saya Rp1,8 juta per bulan. Kalau dibayarkan, saya ingin membuka usaha,” harapnya. (ran415)