Breaking News
Home >> Headline >> Giliran Dirut AM Parikesit Membantah

Giliran Dirut AM Parikesit Membantah

Martina: Pengadaan Bor Ortopedi Lewat e-Catalog 2016

TENGGARONG – Direktur Utama RSUD Aji Muhammad Parikesit (AMP), Tenggarong Seberang, Martina Yulianti membantah tudingan proses pengadaan alat bor untuk bedah tulang (ortopedi) di rumah sakit tersebut sarat dengan korupsi. Penegasan itu sekaligus menjawab tudingan Forum Peduli Kesehatan Masyarakat Kutai Kartanegara (FPKMK) saat aksi di DPRD Kukar, dua hari lalu.
“Tudingan FPKMK soal pengadaan alat bor bedah tulang dikorupsi, sungguh tidak benar. Karena pengadaan alat baru dilakukan tahun 2016 dan belum pernah mendapat alokasi anggaran tahun sebelumnya,” kata Martina kepada Koran Kaltim, Jumat (7/10).
Dijelaskan, alokasi alat bor bedah tulang pada tahun 2015 memang diakui ada. Namun, dana tersebut digunakan untuk pengadaan alat bor bedah plastik. Selain itu, Martina membeber ada usulan berisi permintaan alat bor dari dokter spesialis ortopedi pada 3 Mei 2016, kemudian diteruskan kepada PT Transmedik Indonesia pada 9 Juni 2016. Alat yang dipesan tiba pada 1 September 2016. Proses pemeriksaan dan uji fungsi barang sesuai Berita Acara Pemeriksaan Fisik Barang 445/6698/682/IX/2016 tertanggal 1 September 2016 telah diserahterimakan ke instalasi CSSD untuk dilakukan penempatan pada 2 September 2016. “Pertama kali digunakan pada 9 September 2016,” sebut Martina lagi.
Ia menyebut, sebelum alat bor ortopedi tiba, pihak penyedia alat meminjamkan alat medis tersebut sejak 17 Juni 2016. Sedangkan harga alat bor dimaksud pada tahun 2015 kisaran Rp1 miliar lebih. Setelah masuk e-catalog tahun 2016 menjadi Rp848,170,840.46.
“Sesuai ketentuan hukum, RSUD AM Parikesit transaksi pengadaan alat bor melalui e-catalog. Pengadaan alkes itu tercatat pada lembar kontrak Nomor 445/4737/029/447/VI/2016 tanggal 9 Juni 2016, dengan perihal kegiatan pengadaan alat kedokteran bedah,” tegasnya.
Meski pada kenyataannya digunakan alat bor tukang, namun hal itu tidak menjadi masalah kata Martina. Karena, hal terpenting dalam medis adalah steril, dan pada praktiknya banyak rumah sakit gunakan alat yang sama. “Hal ini dibenarkan ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Ortopedi (PABOI) Kaltim Dr Adi Aryanto Sp. OT-Spine. Bahkan, PABOI Kaltim layangkan surat pemanggilan kepada dokter spesialis bedah tulang di RSUD AM Parikesit Tenggarong Seberang pada 15 september 2016 untuk meminta klarifikasi, tapi bersangkutan tak penuhi panggilan tersebut,” ungkapnya.
Pada prinsipnya, masalahan bor ortopedi bermula dari somasi dilayangkan dokter spesialis ortopedi kepada direktur RSUD AM Parikesit. Setelah mendapat surat panggilan untuk pembinaan, dokter bersangkutan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Hal ini karena banyak keluhan pasien dan keluarga pasien terhadap pelayanan dokter tersebut. Seperti kedisiplinan dan pelayanan diberikan tak maksimal. Namun, dokter bersangkutan berdalih tak dapat bekerja dengan baik, karena peralatan yang ada dinilai tidak memadai. “Setelah bor ortopedi diminta tiba, bersangkutan datang dan ternyata protes terhadap dokter bersangkutan tetap banyak,” tambahnya. (ind)