Breaking News
Home >> Samarinda >> Guest House Marak, Okupansi Menurun
TIBA-TIBA MUNCUL: Salah satu tempat menginap sementara yang ada di Samarinda, dengan harga murah membuat pengunjung hotel pun menurun.
TIBA-TIBA MUNCUL: Salah satu tempat menginap sementara yang ada di Samarinda, dengan harga murah membuat pengunjung hotel pun menurun.

Guest House Marak, Okupansi Menurun

Selama Dua Tahun Kerugian Hotel Mencapai 50 Persen

SAMARINDA – Keluhan terkait menjamurnya keberadaan guest house atau home stay alias rumah menginap sementara yang ada di Samarinda saat ini dilontarkan Badan Pengurus Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPC-PHRI) Samarinda.
Tak tanggung-tanggung, imbas keberadaan guest house yang harganya sangat jauh di bawah harga hotel tersebut, kerugian yang dialami banyak hotel di Kota Tepian mencapai 50 persen terhitung dalam kurun waktu dua tahun terakhir karena tingkat hunian atau okupansi yang menurun.
Hal ini diungkapkan Sekretaris BPC-PHRI Fikri Edrus kepada Koran Kaltim Selasa (11/10) kemarin. Menurut Fikri, dirinya bersama pe­ngusaha hotel lainnya sudah berulang kali membahas keberadaan guest house yang membuat usaha perhotelan nyaris tiarap.
“Menjamurnya guest house ini tentu memiliki dampak yang sangat signifikan buat kami para pengusaha hotel karena mempengaruhi tingkat hunian, terutama hotel berbintang satu, dua, dan non bintang yang memiliki izin usaha resmi,” kata Fikri.
Bersaing dalam bidang bisnis tentunya menjadi tantangan bagi setiap pengusaha. Persaingan tentu tidak akan melunturkan niatan setiap pengusaha hotel meneruskan usahanya tapi kalau persaingan yang berlangsung tidak memasuki kategori sehat, tentu hal tersebut bisa sangat mengkhawatirkan. “Kalau ada pengusaha guest house dengan perizinan tarif yang telah disesuaikan dengan PAD (Pendapatan Asli Daerah) kami tidak akan mempermasalahkannya. Tapi kenyataan yang ada sekarang kan tidak seperti itu,” tutur Fikri.
Perizinan bodong yang dilakukan pemilik guest house dengan mencantumkan usaha kos-kosan sangat meresahkan pengusaha hotel karena tarif yang sangat rendah serta semakin menjamurnya usaha tersebut. “Kami sangat berharap pemerintah daerah bisa mendisiplinkan pengusaha guest house terutama yang izinnya tidak sesuai agar kami pengusaha hotel bisa kembali bernafas lega kedepannya,” harap Fikri.
Seperti diberitakan harian ini, hasil sidak DPRD Samarinda pekan lalu menemukan banyak guest house juga home stay yang menyalahi aturan perizinan. Awalnya izin yang diberikan kepada pemkot hanya berupa kos-kosan tapi ternyata saat berdiri berganti menjadi guest house dengan harga relatif terjangkau bagi kalangan menengah ke bawah. Pemkot Samarinda sendiri sudah menyatakan siap untuk menertibkan masalah ini secepatnya.
Salah seorang pengusaha guest house, Syahran, pernah menegaskan kepada media ini siap menjalankan aturan yang berlaku. “Kalau saya siap saja menjalankan aturan kalau memang aturannya sudah berlaku. Saat ini kami masih proses mengurus perizinan untuk menjadi guest house karena saat ini masih berizin kos kosan,” kata Syahran saat itu. (ms315)