Breaking News
Home >> Bontang - Kutim >> Jalan Terburuknya Tarik Biaya Berobat

Jalan Terburuknya Tarik Biaya Berobat

SANGATTA – Defisit anggaran tahun ini, benar-benar berdampak pada kondisi keuangan Kutai Timur. Menyusul defisit anggaran tahun ini, menyebabkan dipangkasnya biaya kesehatan, khususnya biaya operasional pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di Kutim.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Aisyah dengan dipangkasnya biaya operasional Puskesmas tersebut, kini nasib 21 puskesmas pada 18 kecamatan di Kutim terancam tidak bisa membayar listrik, air dan termasuk pembelian bahan bakar minyak (BBM) solar bagi kendaraan operasional.
“Termasuk jika ada pasien yang harus dirujuk ke Sangatta atau Samarinda, maka pihak Puskesmas tidak bisa mengantar pasien tersebut sebagaimana biasanya,” kata Aisyah, kemarin.
Diakui, Dinkes Kutim sendiri saat ini juga tidak bisa berbuat banyak karena juga mengalami pemangkasan anggaran. Jika Pemkab Kutim tidak bisa segera mencarikan solusi dari permasalahan ini, kemungkinan jalan satu-satunya agar bisa keluar dari permasalahan tersebut adalah dengan menarik biaya kepada setiap pasien yang berobat atau kepada pasien yang akan dirujuk.
“Padahal selama ini hal seperti itu tidak pernah dilakukan pihak Dinkes, apalagi Puskesmas di Kutim,” pungkasnya.
Sebelumnya, akibat minimnya biaya oprasional. Dinas kesehatan Kutai Timur memerkirakan pelayanan kesehatan di 21 puskesmas yang ada di Kutim terancam terhambat pelayanannya.
Sebab, setiap puskemas yang ada di Kutim sudah tidak lagi memiliki anggaran, mengingat Dinkes kutim hanya memperoleh biaya operasinal sebesar Rp 100 juta pada Anggaran Perubahan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) tahun 2016.
Sementara itu, Sekkab Kutai Timur Irawansyah menuturkan, dia segere mencarikan solusi terkait permasalahan yang dialami 21 Puskesmas itu.
“Kita akan segera mengembalikan biaya operasional puskesmas dianggaran perubahan, setelah ada persetujuan hasil evaluasi dari pemerintah provinsi (Pemprov) Kaltim,” pungkasnya. (sab)