Breaking News
Home >> Politik >> Jokowi Usul 23 Calon Dubes Baru

Jokowi Usul 23 Calon Dubes Baru

Sudah di Meja Pimpinan DPR, Dinilai Bagi-bagi Kue Kekuasaan

JAKARTA – Surat Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentang usulan 23 calon duta besar (dubes) baru sudah parkir di meja pemimpin DPR. Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari mengatakan, surat itu akan dibacakan dalam rapat paripurna DPR mendatang.
Setelah itu, usulan 23 calon dubes baru itu akan dibahas Badan Musyawarah (Bamus) DPR. “Setelah itu akan dilakukan fit and proper test di komisi I,” kata Abdul Kharis saat dihubungi wartawan, Minggu (27/11).
Kendati demikian, dirinya mengata-kan hingga saat ini Komisi I DPR belum menerima surat presiden tersebut. “Sehingga saya sebagai ketua komisi I belum tahu nama-nama dalam Surpres tersebut,” tuturnya.
Penunjukkan 23 calon duta besar (dubes) dianggap bernuansa politik. Pasalnya, bagi-bagi kekuasaan ala Presiden Joko Widodo (Jokowi) terlihat dalam penempatan sejumlah tokoh di 23 negara itu.
Mulai dari mantan menteri, tim sukses, pengamat politik, hingga anggota dewan pertimbangan presiden (wantimpres) masuk dalam daftar 23 calon dubes baru itu.
Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, dalam politik selalu bicara apa, siapa, dapat apa, dan bagaimana. Menurut-nya, penempatan 23 calon dubes itu lebih kental aroma bagi kue kekuasaan.
“Nampak sekali nama-nama yang cukup dikenal publik, posisinya, dan pembelaan opininya selama ini di ruang opini media mainstream, sudah rahasia umum,” kata Pangi saat dihubungi wartawan, Minggu (27/11).
Yang penting menurut dia, 23 calon dubes itu bisa mem-bangun akselerasi hubungan bilateral dan bekerja yang lebih baik sebagai wakil Indonesia.
“Bagi publik bagaimana prinsip suksesi duta besar, prinsip profesional, dan proporsi, trayek ‘the right man in the right place’ menempatkan seseorang sesuai pengalaman, kinerja dan kapasitas serta kapabel dalam meningkat hubungan kerja sama dengan negara lain,” ucapnya.
Dia menambahkan, sebaiknya semangat pergantian dubes itu lebih pada semangat perbaikan kinerja dibandingkan semangat bagi-bagi kekuasaan. (sdn)