Breaking News
Home >> PPU - Paser >> Jumlah ODHA PPU Berkurang

Jumlah ODHA PPU Berkurang

Kini Tercatat Tinggal 47 Orang

PENAJAM – Jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami pengurangan setelah sebanyak dua orang penderita resmi pindah domisili keluar daerah Kaltim. Hal ini diungkapkan Pengelola Program HIV/AIDS Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU, Ponco Waluyo kepada Koran Kaltim, Selasa siang (22/11) kemarin.
Dibeberkannya, awalnya jumlah penderita di PPU per awal Oktober 2016 kemarin sejumlah 48 orang, pascaditemukan sebanyak lima orang penderita baru, namun di pertengahan bulan itu, pihaknya kembali mendapatkan satu orang penderita berjenis kelamin laki – laki usia 23 tahun warga Kecamatan Babulu, sehingga bertambah menjadi satu orang lagi. Dengan demikian jumlah keseluruhan menjadi 49 orang.
“Penderita yang baru ditemukan tersebut baru diketahui positif menderita HIV setelah melakukan pemeriksaan di klinik Voluntary Counseling Test (VCT) RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan, namun pada Oktober itu juga, ada dua orang penderita HIV/AIDS yang pindah domisili ke Kota Jakarta, sehingga kini jumlah penderita menjadi sisa 47 orang,” ujarnya.
Ponco menuturkan, kedua orang penderita itu adalah ibu dan anak, pindah domisili ke Jakarta dengan alasan mendatangi suaminya yang telah berkerja di kota itu, dengan berpindahnya dua orang penderita tersebut, maka pengawasan dan pemantauan terhadap penderita itu tidak lagi dilakukan Dinkes PPU.
“Berkurangnya jumlah Odha ini tentu ikut mengurangi beban Dinkes PPU untuk melakukan pengawasan dan pemantauan Odha yang kini masih tersisa 47 orang. Harapannya, para penderita tidak putus berobat meskipun kini untuk mendapatkan obat, suplemen dan pemeriksaan hanya bisa dilakukan di Balikpapan saja,”tukas Ponco.
Diakuinya, memang di RSUD PPU telah memiliki klinik VCT, namun hingga kini masih berjalan tidak maksimal sehingga para Odha harus ke Kota Balikpapan untuk mendapatkan pengobatan, pemeriksaan maupun mendapatkan suplemen.
“Saya akui dari total Odha di PPU sekitar 65 persen tidak bisa melakukan pengobatan, mendapatkan obat dan suplemen serta melakukan pemeriksaan atau putus berobat. Hal ini disebabkan penderita tidak memiliki kemampuan fisik dan finansial untuk pergi ke Kota Balikpapan,”katanya.
Dinkes, lanjutnya, kini sedang memfokuskan optimalisasi klinik VCT di Puskesmas Induk setiap kecamatan dan diharapkan dapat terealisasi di tahun 2017 mendatang. Nantinya para Odha dapat menjalani pemeriksaan dan mendapatkan suplemen di Puskesmas tersebut, sementara sejak tahun 2015 hingga 2016 ini diakui memang tidak dianggarkan untuk obat dan suplemen Odha tersebut oleh Pemkab PPU.
“Kita berharap pada APBD tahun 2017 kelak ada anggaran yang disiapkan untuk pembangunan VCT di setiap puskesman induk sehingga para Odha di PPU tidak lagi harus pergi ke Kota Balikpapan untuk melakukan pemeriksaan, pengobatan dan mendapatkan obat – obatan. Jadi cukup datang ke Puskesmas induk di lingkungannya,”pungkas Ponco. (nav)