Breaking News
Home >> Ekonomi kaltim >> Kaltim Optimistis Capai Swasembada Beras

Kaltim Optimistis Capai Swasembada Beras

SAMARINDA- Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur optimistis mampu mencapai swasembada beras dan pangan pada 2018, karena berbagai program pengembangan pertanian terus dilakukan, termasuk bekerja sama dengan TNI untuk meningkatkan produksi pangan.
“Selain kerja sama dengan TNI-AD dalam pencetakan sawah dan meningkatkan produksi jagung serta kedelai, kami juga terus melakukan langkah lain terkait meningkatkan produksi maupun produktivitasnya,” ujar Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kaltim Ibrahim.
Menurutnya, sarana dan prasarana pertanian merupakan faktor penting dalam upaya pengembangan pertanian, seperti pencetakan sawah, optimalisasi lahan, pembangunan jaringan irigasi, ketersediaan pupuk, pestisida, dan alat mesin pertanian.
Untuk produksi padi Kaltim pada 2015 sebanyak 408.782 ton gabah kering giling (GKG) belum mampu mencukupi kebutuhan warga Kaltim, sehingga sebagian beras untuk masih didatangkan dari luar daerah.
Meski demikian, Ibrahim meyakini seiring dengan berbagai upaya yang dilakukan, ke depan produksinya akan terus meningkat hingga tahun 2018 mampu swasembada.
Saat ini, lanjutnya, tingkat keyakinan petani terhadap serapan pasar sudah semakin kuat sehingga petani juga yakin ketika bercocok tanam, tidak seperti sebelumnya yang terkadang petani ragu. Keyakinan ini juga menjadi modal untuk meningkatkan produksi guna menuju swasembada.
Keyakinan petani muncul karena sudah ada pihak yang menjamin produksi pertanian terserap di pasar, sehingga sawah yang digarap dalam 1 hektare dan mampu menghasilkan 5 ton beras, bisa terjual seharga minimal Rp12 juta dalam sekali panen.
Selama ini, lanjutnya, jumlah petani Kaltim minim karena mereka lebih memilih bekerja di sektor pertambangan. Namun, seiring banyaknya perusahaan tambang yang tutup dan banyak terkena pemutusan hubungan kerja, kemudian para mantan petani tersebut kembali bertani.
“Jumlah petani untuk menggarap lahan pertanian di Kaltim hanya sekitar 160 ribu orang dari sebelumnya yang sekitar 200 ribu petani. Hal ini tentu berpengaruh terhadap kuantitas produksi pertanian,” kata Ibrahim
Dari jumlah 160 ribu petani tersebut, lanjutnya, itu pun banyak yang sudah tidak kuat bekerja karena mereka sudah berusia lanjut, sedangkan anak cucu mereka banyak yang tidak mau menjadi petani karena sebelumnya lebih tertarik di sektor tambang. (ant)