Home >> Berau - Kubar >> Kasus Anak, Jangan Tulis Identitasnya di Media Massa

Kasus Anak, Jangan Tulis Identitasnya di Media Massa

TANJUNG REDEB – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) meminta media tidak menuliskan identitas anak, yang tengah berhadapan dengan persoalan hukum, secara teran benderang di media massa.
“Kami akui, memang kami kadang kalah cepat dengan para wartawan, untuk mendapatkan informasi soal perempuan dan anak. Memang sangat erat hubungannya dengan para pewarta seperti kalian. Maka dari itu, sangat perlu kerjasama kami dengan wartawan,” kata Ketua P2TP2A Berau, Fika Yuliana, saat berbincang bersama wartawan, di kediaman Wakil Bupati Berau Agus Tantomo, belum lama ini.
Diterangkan Fika, penulisan identitas anak yang tengah berhadapan dengan dengan jelas di media massa, bisa menjadikan anak mengalami trauma. Mengacu pasal 17 Undang-Undang Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak, pada ayat 2 dijelaskan bahwa setiap anak yang menjadi korban, pelaku maupun saksi dalam kasus kekerasan seksual dan hukum lainnya berhak untuk dirahasiakan identitasnya.
“Kami berpikir jangka panjangnya, trauma yang mereka alami karena terekspos di media, meskipun hanya inisial tetap tidak boleh. ABH (anak berhadapan hukum) ini masih memiliki masa depan yang panjang,” terangnya.
Menurutnya, pascatrauma tentu hal tersulit untuk dipulihkan. Kondisi itu berbeda dengan luka akibat goresan yang mudah hilang.
“Kalau luka fisik bisa cepat hilang, tapi kalau luka mental itu sangat sulit. Jadi teman-teman jurnalis baiknya dalam menuliskan berita tentang kekerasan ataupun hukum yang bersangkutan dengan anak, agar menyamarkan nama dan identitasnya baik itu alamat rumah, alamat sekolah, ataupun nama-nama keluarganya,” lanjutnya lagi. (mh216)