Home >> Gaya hidup >> Kekurangan Perempuan Dalam Mengelola Uang
ILUSTRASI wanita sedang belanja make up (FOTO: SHUTTERSTOCK)
ILUSTRASI wanita sedang belanja make up (FOTO: SHUTTERSTOCK)

Kekurangan Perempuan Dalam Mengelola Uang

PEREMPUAN memang lebih dikenal sebagai bendaharanya keluarga. Di mana lelaki yang memiliki peran sebagai pencari nafkah, lalu perempuan lah yang bekerja sebagai pengatur uang. Dengan begitu, sebuah keluarga bisa melakukan kerja sama.
Akan tetapi, ternyata perempuan juga memiliki beberapa kelemahan dalam mengelola uang. Namun, dalam hal ini bukan berarti perempuan tidak cocok untuk ditempatkan dalam bagian keuangan, hanya saja ada beberapa bagian yang terkadang masih jadi kelemahan pada perempuan dalam masalah pengaturan uang.
Berikut beberapa kelemahan perempuan dalam mengelola uang, terutama keuangan keluarga ;
1.Lemah akan produk make up yang diskon
Semua orang tentu sudah tahu bahwa perempuan bisa lemah dengan produk-produk dengan potongan harga yang besar. Terlebih lagi untuk produk-produk make-up. Di tambah lagi, kini sudah berbagai macam jenis make up yang biasa di beli oleh perempuan.
2.Kurang sigap dalam menghadapi situasi tidak terduga
Siapa yang ingin keluarganya terkena musibah, apalagi kita semua tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi ke depannya. Sebagai contoh saja, suami yang meninggal, atau suami yang perusahaannya bangkrut. Kebanyakan dari perempuan tidak memperhatikan hal-hal sedetail ini. Padahal, alangkah lebih baiknya jika perempuan melakukan investasi sedini mungkin.
3. Ragu untuk berinvestasi
Menyambung ke poin-poin sebelumnya, perempuan sangat disarankan untuk berani melakukan investasi. Namun, kebanyakan wanita masih ragu untuk melakukan investasi. Banyak sekali investasi yang bisa Anda lakukan selagi menjadi ibu rumah tangga, seperti investasi emas, dana reksa dan juga investasi-investasi lainnya.
4. Tidak tahan melihat diskon
Bukan rahasia lagi apabila perempuan senang dalam berbelanja. Bukan hanya belanja untuk kepentingan dirinya saja, tetapi juga untuk kepentingan suami atau sang anak. Terkadang, mereka memaksakan diri untuk berbelanja di toko-toko yang menjual barang dengan potongan harga. Padahal, barang tersebut tidak begitu penting dalam kehidupan mereka. (sc)