Breaking News
Home >> Samarinda >> Kelebihan Dana Salur Kesalahan Pusat
DILEMA PEMERINTAH KOTA: Pembangunan di Samarinda belum sepenuhnya berjalan karena defisit anggaran, masalah kembali menerpa dengan keharusan mengembalikan dana ke pusat sebesar Rp140 miliar karena kesalahan transfer ke daerah.
DILEMA PEMERINTAH KOTA: Pembangunan di Samarinda belum sepenuhnya berjalan karena defisit anggaran, masalah kembali menerpa dengan keharusan mengembalikan dana ke pusat sebesar Rp140 miliar karena kesalahan transfer ke daerah.

Kelebihan Dana Salur Kesalahan Pusat

Pemkot Lobi Agar Bisa Angsur Selama Tiga Tahun

SAMARINDA – Asisten II Sekkot Samarinda Sugeng Chairuddin menegaskan kalau persoalan dana kelebihan salur disebabkan kesalahan manajemen keuangan dari pemerintah pusat. “Sebenarnya yang salah ini kan pemerintah pusat, karena sudah memberikan anggaran senilai Rp1,7 trilun lalu diminta kurangi lagi Rp140 miliar. Padahal kami sudah membagi-bagikan ini kepada setiap SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) untuk belanja kebutuhan,” ujar Sugeng yang juga merangkap menjadi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Samarinda.
Hal ini disampaikan Sugeng terkait dengan harus dikembalikannya anggaran sebesar Rp140 miliar kepada pemerintah padahal sudah diberikan kepada Pemkot Samarinda dengan alasan kelebihan saat mentransfer padahal anggaran pemkot saat ini tinggal Rp1,7 triliun sementara dana lebih salur wajib dikembalikan ke kas pemerintah pusat. “Kami masih ingin melobi ke pusat apakah pengembalian kelebihan salur ini bisa diangsur selama tiga tahun atau bagaimana,” sebut Sugeng lagi.
Ia pun menyebutkan utang yang harus dibayar untuk tahun 2017 dengan pihak ketiga yaitu Rp261 miliar. “Selain itu ada juga Jamkesda Rp93 miliar. Kami juga harus memikirkan kekurangan anggaran karena adanya pemotongan bantuan provinsi senilari Rp93 miliar serta prakiraan realisasi pendapatan daerah yang belum tercapai Rp199 miliar dari targetnya Rp400an miliar,” paparnya.
Terpisah Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Hermanus Barus mengungkapkan sebelumnya kejadian ini sebelumnya pernah terjadi. “Kalau tahun ini memang seperti kebakaran jenggot, padahal kan sebelumnya sudah pernah terjadi. Bahkan mulai tahun 2013 sampai 2015 ada kelebihan dan kekurangan salur. Namun harus diakui tahun ini kelebihan salur angkanya cukup tinggi, sehingga kita seperti panik karena harus mengembalikan anggaran,” kata Hermanus. “Nanti saya akan ke Jakarta dulu untuk meminta Pemerintah Pusat apakah bisa anggarannya tidak dikembalikan, atau kita akan mengangsur pembayarannya,” imbuhnya. (ms315)