Breaking News
Home >> Kutai Kartanegara >> Kesadaran Memberi ASI Eksklusif Masih Rendah

Kesadaran Memberi ASI Eksklusif Masih Rendah

TENGGARONG – Kesadaran memberi air susu ibu (ASI) eksklusif di Kutai Kartanegara masih minim atau sekitar 30 persen dari harapan minimal 50 persen. Kondisi cukup memprihatinkan, ditambah lagi masih banyak petugas kesehatan yang belum menerapkan inisiasi menyusu dini (IMD) sesuai standar.
Hal tersebut menjadi dasar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar menggelar pelatihan konseling ASI di Hotel Grand Elty Singgasana kepada petugas pelayanan kesehatan di seluruh fasilitas layanan kesehatan di Kukar.
“Dengan pelatihan ini kami berharap cakupan pemanfaatan ASI eksklusif di masyarakat meningkat, yang berimbas terhadap menurun-nya permasalahan gizi khususnya pada balita,” kata Kabid Yankesmas Dinkes Kukar, Ismi melalui Koor-dinator Gizi Dinkes Kukar, Serianti.
Dalam pelatihan itu, Dinkes menggandeng Yayasan Sentra Laktasi Jakarta. Kerja sama ini menekankan pada proses pelatihan konseling menyusui selama 40 jam, sesuai standart modul WHO UNICEF.
Pihak Yayasan Sentra Laktasi menugaskan dr Utami Rusli sebagai Breasfeeding Expert, dr Silvia sebagai Course Director dan enam orang fasilitator.
Dilanjutkan Serianti, ada beberapa permasalahan yang sebagian besar dialami ibu yang menyusui sehingga mereka enggan memberi ASI kepada anaknya. Seperti ASI yang tidak mau keluar, puting tenggelam, puting lecet, salah dalam posisi menyusui serta anggota keluarga yang tidak mendukung dan petugas tidak menyegerakan IMD bagi ibu.
“Hal ini yang menjadi titik tolak dilatihnya petugas kesehatan menjadi motivator dan konselor bagi ibu-ibu dalam mengatasi permasa-lahan pemanfaatan ASI dan IMD tersebut,” ujar Serianti.
Namun belum semua fasilitas layanan kesehatan, terutama dari klinik dan praktek swasta ikut dalam pelatihan ini. Oleh karenanya, Serianti berharap petugas kesehatan yang mengikuti latihan tersebut ikut membantu dalam menyampaikan ketrampilan sebagai konselor peningkatan ASI ekslusif bagi pihak-pihak lain yang memerlukan.
“Saya harap petugas kesehatan yang telah mengikuti pelatihan ini bisa menjadi mentor petugas-petugas kesehatan lainnya yang belum mengikuti pelatihan ini,” ujar Serianti.
Selain itu, kendala lain yang dihadapi masih banyak puskesmas dan rumah sakit di Kukar yang belum menyediakan ruang khusus konseling ASI. Sejauh ini, baru tiga puskesmas yang menyediakan fasilitas tersebut, yakni Puskesmas Rapak Mahang, Samboja dan Puskesmas Loa Janan.
“Seluruh Puskesmas dan rumah sakit diharapkan sudah menyediakan ruang khusus konseling ASI seperti yang diterapkan Puskesmas Rapak Mahang, Samboja dan Loa Janan,” pungkasnya. (ale)