Konflik Malaysia Mendekat Ke Perbatasan
Kawasan ‘Perang’ Hanya 2 Jam dari Tawau, Diperkirakan Bakal Ada Eksodus ke Perbatasan Nunukan
NUNUKAN- Konflik antara tentara dan polisi Diraja Malaysia dan Kesultanan Sulu Filipina Selatan di kawasan Sabah Malaysia, makin hari makin memanas. Berdasarkan informasi dari beberapa warga Indonesia yang tinggal disekitar Sabah Malaysia, konflik yang berawal dari daerah Kota Lahad Datu kini meluas ke Semporna, daerah kota yang tak jauh dengan kota Tawau, perbatasan dengan Sebatik Indonesia.
“Kondisi para TKI diperusahaan-perusahaan di sana sedang dicutikan semua, mulai dari sekolah, seluruh karyawan juga dicutikan, seluruh Felda (perusahaan perkebunan BUMN Malaysia) Lahad Datu juga dihentikan aktivitasnya,” kata Firdaus G Atawuwur, ketua salah satu lembaga pendidikan anak-anak TKI di Felda Sabah, kepada Koran Kaltim, kemarin.
Para TKI di Felda Lahad Datu, termasuk guru-guru lembaga pendidikannya, Yayasan Peduli Pendidikan Anak Indonesia (YPPAI)-Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al-Al Firdaus Felda Plantation, sementara diungsikan di rumah-rumah penduduk dan masjid.
“Guru-guru saya tadi telepon, sekarang mereka diungsikan ke masjid bersama dengan TKI-TKI lainnya. Bukan hanya TKI, semua karyawan,” ujarnya.
Diceritakan, konflik yang meluas hingga kota Semporna itu juga telah menewaskan beberapa orang. Bukan tidak mungkin konflik bisa meluas hingga kota Tawau yang hanya berjarak sekitar dua jam perjalanan darat dari Semporna.
“Kalau Tawau belum ada terjadi, sekarang masih di Semporna dan Felda Lahad Datu,” ujarnya.
Sementara di Tawau sudah berembus isu dimasyarakat bahwa konflik bersenjata akan meluas hingga kota yang berbatasan laut dengan Sebatik Indonesia itu. Bahkan, beberapa warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Tawau, sudah ada yang berniat untuk mengungsi ke Nunukan.
“Katanya mau sampai Tawau (konflik), orang-orang Sulu mau tangkap orang asli Malaysia untuk dijadikan sandera,” kata Misdewiana, warga Nunukan yang tinggal di daerah Taman BDC, Batu (Kilometer) 2,5 Tawau.
Jika konflik benar merembet ke Tawau, ia sekeluarga rencananya akan mengungsi ke Nunukan, tempat orang tuanya. “Kalau sampai rusuh di Tawau, saya rencananya mau ke Nunukan, biar aman dulu,” ujarnya.
Sementara untuk pemulangan WNI termasuk para TKI ke Tanah Air melalui Nunukan hingga saat ini belum ada peningkatan dari dampak konflik tersebut. “Kemarin saya juga dapat SMS dari konsul, sepertinya tidak ada pengaruh (pengungsian TKI ke Nunukan), syukur-syukur tenaga kerja kita disana aman,” kata Kepala Imigrasi Nunukan, I Gunawan Koesoema, Senin (4/3) kemarin.
Seperti diketahui, kontak tembak di Kampung Tanduo Lahad Datu, Sabah Malaysia menewaskan belasan orang. Pertempuran yang berlangsung pada Jumat (1/2) terjadi setelah upaya perundingan aparat Diraja Malaysia dan tentara Kesultanan Sultan Sulu Filipina Selatan gagal mencapai kesepakatan. Konflik bersenjata bermula saat Kesultanan Sulu ingin Malaysia mengakui tanah adat mereka dan memperbarui kontrak. Mereka mengklaim Malaysia mengontrak wilayah Sabah sejak 1963 dan dibayarkan ke Sulu saban tahun. Tentu saja Malaysia menolak mentah-mentah permintaan ini.
Pemerintah Malaysia, Senin (4/3), menegaskan meningkatkan pengamanan di Negara Bagian Sabah, tempat baku tembak antara aparat Malaysia dan “penyerbu” Tentara Kesultanan Sulu yang sejauh ini sudah menewaskan 26 orang. Perdana Menteri Najib Razak, yang berada dalam tekanan untuk mengatasi krisis keamanan terburuk di Malaysia itu, memerintahkan kepolisian melipatgandakan kekuatan pasukannya di Sabah.
“Sebagai tambahan, dua batalyon angkatan darat sudah dikirim ke Sabah,” kata Najib, yang bersumpah akan memberantas para penyerbu itu.
Malaysia dikejutkan dengan gangguan kelompok militan ini yang mengirimkan antara 100-300 orang mendarat di Sabah pada 12 Februari lalu. Mereka mengklaim negara bagian Sabah adalah milik Kesulatan Sulu yang kini berada di Filipina.
Masuknya para penyerbu bersenjata itu sangat memalukan bagi PM Najib Razak—yang harus menggelar pemilu pada Juni mendatang—karena buruknya pengamanan perbatasan dan menimbulkan dugaan banyaknya imigran ilegal di Sabah.
Kedua belah pihak—tentara Kesultanan Sulu dan aparat Malaysia—sudah berhadap-hadapan selama dua pekan. Akhirnya, baku tembak pecah pada Jumat (1/3) di Desa Tanduo yang mengakibatkan 12 orang penyerbu dan dua polisi Malaysia tewas.
Baku tembak lain terjadi di Semporna, 300 km dari lokasi pertama pada Sabtu (2/3). Baku tembak itu meningkatkan eskalasi konflik dan menambah jumlah korban menjadi 18 orang dari Kesultanan Sulu dan delapan polisi Malaysia.
Belum diperoleh kabar apakah baku tembak di Semporna masih berlangsung atau sudah berakhir.
Polisi Malaysia menyatakan masih mengejar kelompok bersenjata lainnya di sebuah kota dekat Semporna. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa infiltrasi kelompok bersenjata dari Filipina itu masih berlangsung.
Identitas sebenarnya para penyerbu itu masih belum jelas. Namun, Panglima Angkatan Bersenjata Malaysia Zulkifeli Zin dalam konferensi pers di Sabah mengatakan, anggota kelompok bersenjata itu pernah mendapatkan pelatihan militer.
“Teknik gerilya mereka sangat baik,” kata Zin.
Kekuasaan Kesultanan Sulu menghilang sekitar satu abad lalu. Namun, Kesultanan Sulu masih menerima uang terkait penyewaan Sabah di bawah perjanjian dengan Inggris pada masa lalu. (kh/kc)





