Home >> Berau - Kubar >> Kutuk Pengeboman, Umat Mesti Bergandengan

Kutuk Pengeboman, Umat Mesti Bergandengan

AKSI simpati kepada Intan Marbun (2), salah satu balita korban ledakan bom di depan gereja Oikumene di Samarinda yang meninggal sehari pascaledakan, dilakukan warga Berau, Rabu (16/11) malam. Seribu lilin untuk Intan, begitu tema yang diambil untuk bersimpati terhadap Intan dan juga 3 balita lainnya, yang ikut menjadi korban.
“Kami berkumpul di sini, tidak perduli apapun agamamu, sukumu, yang jelas kami mengutuk pengeboman yang terjadi di depan gereja di Samarinda. Kami doa bersama untuk adik kami, Intan,” kata Supri, salah seorang peserta aksi 1.000 lilin.
Tidak sedikit para peserta menitikkan air mata. Mereka ikut merasakan perihnya peristiwa itu, meski tidak secara langsung menjadi korban. “Saya muslim, tapi saya berpikir, jika ini disebut jihad, maka inilah jihad yang tidak masuk akal,” ujar Supri.
“Kami cinta damai, ini Indonesia berbagai ras, suku dan budaya berkumpul di sini. Kami mau pelaku dihukum seberat-beratnya,” terangnya lagi.
Aksi itu juga tidak luput menarik perhatian Wakil Bupati Berau Agus Tantomo. Di tengah aksi, dia meminta umat Islam tetap bergandengan tangan dengan siapapun.
“Ini luka bagi umat Islam maupun agama lainnya. Tapi jadikan ini sebuah pelajaran untuk semakin mempererat persaudaraan kita, mari kita jaga kerukunan di Berau,” ajak Agus.
Agus juga terlihat menyalakan lilin kemudian menaruh di depan poster bergambar Intan. Orang nomor dua di Berau itu juga menaruh bunga mawar sebagai penghormatan terhadap Intan. (mh216)