Home >> Olahraga Daerah >> LeKOP Soroti Penurunan Prestasi Atlet

LeKOP Soroti Penurunan Prestasi Atlet

SAMARINDA – Gelaran PON Jabar sudah berlalu. Kontingen Kaltim sukses mencapai target 5 besar atau provinsi terbaik di luar Pulau Jawa. Harus diakui, terlepas dari tercapainya target finis di posisi 5 besar, perolehan medali atlet Benua Etam justru meleset.
Lembaga Kajian Olahraga Prestasi (LeKOP) Kaltim secara organisasi mengapresiasi capaian target kontingen Benua Etam di Tanah Legenda. Capaian ini pula seharusnya di sosialisasikan sehingga hasil kerja selama lebih dari enam bulan membuahkan hasil. Tapi, LeKOP juga memiliki sejumlah catatan.
Wakil Sekretaris LeKOP Kaltim, M Fadli mengaku sebagai lembaga kajian olahraga, dirinya bersama sejumlah anggota lain sudah menganalisa kepesertaan Kaltim selama di Jabar. Dia mengaku sebagai peserta terbaik di luar Pulau Jawa memang tak bisa ditolak, hanya saja menurut dia LeKOP lebih menyoroti penurunan prestasi atlet.
“Kami melihatnya justru masih terjadi adanya penurunan kualitas atlet, ini yang sedianya menjadi pekerjaan bersama untuk diperbaiki ke depan,” kata dia.
LeKOP secara khusus mengkaji hasil PON untuk Kaltim. Secara khusus, perolehan medali justru masih jauh dari target semula. Namun demikian yang menjadi catatan penting adalah penurunan prestasi selama menjalani pra PON dibandingkan dengan PON.
“Pra PON, Kaltim dapat 76 emas, tapi di PON malah hanya sepertiganya, padahal selama ini masa persiapan sudah maksimal, mulai mendatangkan pelatih internasional hingga pemusatan ke luar daerah dan luar negeri,” kata M Fadli.
Dia mencontohkan capaian cabor gulat yang gagal menguslang sukses di pra PON. Di pra PON Kaltim sukses meraih 13 medali emas, tapi setelah di PON prestasinya menyusut dengan hanya meraih 6 medali emas.
“Gelar juara umum tertinggal di Jabar,” kata dia.
Soal capaian gulat, Anggota Bidang Prestasi LeKOP, Saleh Basire mengaku sudah meramalkan capaian medali di PON. Menurut dia, mendatangkan pelatih asing dalam waktu singkat bisa jadi kesalahan.
“Kedatangan pelatih asing bagi atlet dalam waktu singkat, bukan meningkatkan itu malah menghancurkan,” kata dia.
Ternyata perkiraan Saleh Basire diakui benar. Sebagai palku olahraga gulat sejak tahun 1965, Saleh Basire mengaku paham benar soal latihan atlet gulat. Selama persiapan itulah dikatakan dia yang seharusnya menjadi catatan bagi pelaku olahraga agar tidak mengulanginya.
“Pelatih itu harus seperti ayah dan anak, lantas bagaimana dengan pelatih asing?,” tanya dia. (fir)