Home >> Headline >> Lima Orang Utan Dibebaskan ke Hutan Kehje Sewen

Lima Orang Utan Dibebaskan ke Hutan Kehje Sewen

Dulu Pakai Helikopter, Sekarang Diangkut dengan Mobil

YAYASAN Borneo Orangutan Survival (BOS) kerja sama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim kembali akan lepasliarkan 4 orang utan, dan satu orang utam dikembalikan dari Samboja Lestari ke Hutan Kehje Sewen, Kutai Timur dan Kutai Kartanegara (Kukar), Pelepasan lima kera besar dan kuat yang habitatnya ada di Sumatra dan Kalimantan itu secara seremonial oleh Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, Selasa (18/10) di kantor gubernur Kaltim.
Awang Faroek dalam sambutannya mengungkapkan, pelepasliaran orang utan ke habitat alami sangat bermanfaat bagi pelestarian habitat dan keanekaragaman hayati di hutan Kaltim. “Saya ingatkan lagi pentingnya menjaga kelestarian untuk mengurangi dampak pemanasan global. Saya sepenuhnya mendukung upaya pelepasliaran dan berharap orang utan diliarkan ke Hutan Kehje Sewen, agar berkembang jadi populasi liar yang mandiri dan berkelanjutan,” ungkap Awang.
Tak hanya itu, Awang juga menyebut Kehje Sewen merupakan hutan hujan seluas 86.450 hektare di Kaltim yang dikelola dalam skema Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) oleh PT Restorasi Habitat Orang Utan Indonesia). “Yayasan BOS dapat izin pemanfaatan hutan ini pada tahun 2010, khusus untuk peliaran orang utan rehabilitasi,” tambahnya.
Saat melepaskan orang utan, turut hadir staf khusus Menteri bidang Media Komunikasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Nova Herivan, Kepala BKSDA Kaltim Sunandar Trigunajasa N dan Duta BOS Foundation Nadine Alexandra Dewi Ames juga Putri Indonesia 2010.
Sementara itu, Pimpinan Yayasan BOS, Jamartin Sihite mengatakan, lima kandidat primata bernama latin Pongo Pygmaeus itu akan dilepas ke alam liar tersebut telah melalui proses sekolah hutan, layaknya manusia selama 6 hingga 10 tahun.
“Jadi, ada beberapa keahlian harus dimiliki orang utan agar bisa dilepas ke alam liar, harus bisa memanjat pohon, bisa makan makanan alami, bisa membuat sarang serta bisa kenali musuhnya,” ungkap Jamartin kepada wartawan, kemarin.
Pada bulan November mendatang, BOS kembali akan lepaskan enam orang utan. Target BOS sejak tahun 2012 hingga Desember 2016 akan lepaskan 250 orang utan. Saat ini, dipusat rehabilitasi Kaltim terdapat sekitar 220 orang utan dan di Kalimantan Tengah sekitar 460 orang utan antre untuk dilepaskan ke hutan. Sementara itu, jumlah orangutan di alam liar terdata sekitar 50 ribu orang utan.
“Jadi, kalau ada yang menyebut 10 tahun lagi orang utan akan punah maka itu tidak benar. perlu dipertanyakan data mereka itu,” katanya.
Saat ini, penyebaran orang utan sesuai survei dilakukan BOS terdapat di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kaltim. Sedangkan untuk Kalimantan Selatan bagian utara yang mendekati Kaltim, lanjutnya, ada beberapa habitat orang utan. Namun, pihaknya belum bisa membuktikan hal tersebut.
Terkait kesulitan untuk pelepasan secara liar, Jamartin menyebut saat ini tak ada kendala terlebih soal lahan. Karena, orang utan tersebut dilepas ke hutan restorasi konservasi habitat orang utan seluas 86 ribu hektare. Saat ini, pihaknya telah usulkan untuk menambah lahan konservasi seluas 30 ribu hektare. “Kalau itu dikabulkan Pemprov, Pemkab dan Pemerintah Pusat, sebanyak 200 lebih orang utan sudah cukup untuk dilepaskan. Dengan catatan tak ada yang masuk lagi,” terangnya.
Sebelumnya, biaya dan lahan disebut Jamartin sempat jadi kendala. Pasalnya, untuk sekali mengantar orang utan ke hutan perlu biaya Rp70 juta lebih, karena gunakan helikopter.
“Dulu, untuk sekali membawa orang utan dengan helikopter perlu biaya Rp70 juta, sekarang kita hanya gunakan mobil dan sedang dihitung anggarannya. Kalau pakai helikopter bisa angkut 12 orang utan, kalau pakai mobil maksimal 4 hingga 5 orang utan saja,” sambungnya lagi. (amb)