Breaking News
Home >> Kutai Kartanegara >> Melestarikan Cagar Budaya Perlu Komitmen Bersama
DISKUSI: Suasana sarasehan warisan cagar budaya peninggalan kedaton yang digagas Disparbud DIY dan Disparbud Kukar.
DISKUSI: Suasana sarasehan warisan cagar budaya peninggalan kedaton yang digagas Disparbud DIY dan Disparbud Kukar.

Melestarikan Cagar Budaya Perlu Komitmen Bersama

Dari Sarasehan Disparbud Kukar

Melestarikan cagar budaya diperlukan komitmen semua pihak, pemerintah hingga masyarakat. Semua saling menjaga, bersatu merawat peninggalan masa lampau.

TENGGARONG, Ibu Kota Kutai Kartanegara, dikenal dengan sejarah situs kerajaan Hindu tertua di Indonesia mestinya memiliki ciri khas sendiri. Layaknya Bali, kantor-kantor pemerintahan maupun swasta harusnya dihiasi dengan nuansa kedaton.
“Kantor-kantor yang ada di Tenggarong seharusnya dihiasi dengan nuansa khas Kutai, apakah interior kantor, gazebo atau pagar kantor ada ciri Kutainya,” Menteri Seketaris Kedaton, HAMP Haryanto Bahroel dalam acara Sarasehan Warisan Cagar Budaya Peninggalan Keraton untuk Masyarakat, Kamis(24/11) di Hotel Grand Elty Tenggarong.
Dalam acara garapan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kukar bekerja sama dengan Disparbud DIY itu, terungkap jika beberapa situs kerajaan di Muara Kaman hancur akibat operasional pertambangan batu bara.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran. Haryanto tidak ingin kejadian itu terulang. Perusahaan semestinya melindungi situs-situs bersejarah, dan semestinya menciptakan sumber kehidupan baru sebagai bentuk tanggung jawab kepada daerah.
“Kerajaan Kutai memiliki filosofi etam saling berintegrasi, saling ketergantungan antara raja dan rakyatnya. Dalam setiap momen erau, pembantu kerajaan diliburkan, sedangkan keluarga raja menyajikan untuk rakyat. Kerajaan Kutai sangat terbuka dengan rakyat, karena menyadari pengakuan raja dengan segala kelebihannya. Semua makan bersama antara raja dan rakyat atau yang lebih dikenal dengan beseprah,” ujarnya.
Mantan Sekda Kukar ini menambahkan, banyak situs yang siap dijadikan cagar budaya akan tetapi butuh perjuangan luar biasa, seperti penelusaran sejarah, pembukuan dan pencatatan serta pengakuan sebagai cagar budaya oleh Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan.
Kabid Pelestarian Budaya Disparbud Jogjakarta, Dian Laksmi mengatakan strategi yang pemerintahnya demi melestarikan cagar budaya adalah den-gan mengajak pemuda bermain game tentang cagar budaya, serta mengajak anak sekolah untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah.
“Saat kami membuat lomba pembuatan blog, Instagram dan Facebook tentang cagar budaya Jogjakarta, yang berpartisipasi banyak juga dari kalangan anak muda, ternyata anak muda Jogjakarta masih mempertahankan dan cinta terhadap cagar budaya daerahnya,” jelasnya. (andriansjah)