Kandungan Gizi Durian
Jumlah Per 100 g
Kalori (kcal) 147
Jumlah Lemak 5 g
Kolesterol 0 mg
Natrium 2 mg
Kalium 436 mg
Jumlah Karbohidrat 27 g
Serat pangan 3,8 g
Protein 1,5 g
Vitamin A 44 IU Vitamin C 19,7 mg
Kalsium 6 mg Zat besi 0,4 mg
Vitamin B6 0,3 mg Vitamin B12 0 µg
Magnesium 30 mg
Mengingat Kutai dengan Erau Pelas Benua

Mengingat Kutai dengan Erau Pelas Benua


korankaltim
korankaltim
2016-10-06 05:05:01
BONTANG – Dua windu sudah Bontang lepas dari Kutai, memisahkan diri sebagai bagian dari pemerintahan Kutai. Bontang yang belakangan menjuluki dirinya dengan nama Kota Taman terus menggeliat dan tumbuh. Tetapi, lepas bukan berarti membuang sejarah masa lalunya. Bontang tetaplah Bontang, dengan segala akar budaya khas Kutai yang ada di dalamnya.

Ada dua even tahunan yang menegaskan ke-Kutai-an Bontang. Satu, Pesta Laut yang dihelat setiap perayaan HUT Kota. Satu lagi adalah perwujudan dari tradisi budaya yang telah mengakar di Kutai Kartanegara, Erau. Di Bontang, festival kebudayaan serupa dinamakan Erau Pelas Benua Guntung.

Bagi Muhammad Daud, Kepala Adat Budaya Kutai, Erau di Kelurahan Guntung bukan hanya sekadar tradisi kebudayaan setiap tahun. Berdarah Kutai, Daud tentu ingin peninggalan nenek moyangnya itu tak luntur di makan masa.

“Erau adalah eksistensi Kutai di Bontang. Jangan sampai anak cucu kita tak lagi mengenal kebudayaan asli daerahnya,” kata pria yang akrab disapa Datuk Daud itu di sela prosesi Erau Pelas Benua di Guntung, Bontang Utara, Kota Bontang.

Sejak 2002 silam, Erau Guntung telah menjadi salah satu konsumsi budaya yang bisa dinikmati warga Bontang setiap tahunnya. Lokasinya tak pernah berubah selama 13 tahun perayaan, di halaman rumah adat Lamin, Kelurahan Guntung, Bontang Utara.

Di pembukaan Erau, Daud merupakan bintang. Wajah tegasnya dihiasi mimik serius ketika melakukan ritual upacara pembukaan. Baginya, setiap prosesi Erau memiliki makna dan arti tersendiri. Keseriusannya seolah ingin menegaskan bahwa Erau bukanlah hiburan saban tahun di halaman rumah adat.

“Orang datang ke sini untuk mencari hiburan. Tapi bagi saya, semua gerakan dari setiap prosesi memiliki arti sendiri. Erau adalah nafas budaya Kutai. Tak jadi apa orang hanya berpikir ini hiburan. Sementara, biarlah seperti itu,” kata Daud.

Tiga belas tahun sudah Datuk Daud mengabdikan diri sebagai pemangku adat budaya Kutai di kota yang memiliki maskot burung Kuntul Perak ini. Sejak hijrah dari Kutai Kartanegara dan mendapat mandat langsung dari Sultan Kutai Ing Martadipura pada 2002 lalu, pria yang sudah menginjak usia 75 tahun ini berusaha semaksimal mungkin menjalankan amanat yang diberikan padanya untuk melestarikan adat dan kebudayaan Kutai di Kota Taman. (ram914)

loading...

baca LAINNYA