Home >> Buletin Jumat >> Menjaga Anak di Era Digital
gadget-anak

Menjaga Anak di Era Digital

ANAK adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada manusia. Ia tidak minta dilahirkan, tetapi karena orang tuanya lah anak hadir ke dunia. Anak adalah amanah yang harus dijaga dan dididik agar bisa tumbuh menjadi manusia dewasa yang membanggakan dan berhasil menjadi manusia yang ditakdirkan menjadi pemimpin di manapun ia berada, apapun perannya.Anak dan orang tua adalah kesatuan yang tak bisa dipisahkan, karena orang tua menjadi penentu keberhasilan anak-anaknya.
Bukan hanya pendidikan, nilai-nilai yang dimiliki kedua orang tua dan ditanamkan kepada anak adalah bekal bagi kehidupan mereka untuk berada di tengah-tengah masyarakat dan hidup di zaman yang semakin hari semakin penuh tantangan.Tantangan inilah yang harus dihadapi antara anak dan orang tua.
Ada banyak hal di sekitar mereka yang memiliki peran penuh manfaat tetapi sekaligus menjadi boomerang bagi mereka sendiri jika tak pandai memanfaatkan. Kehidupan Anak-anak yang Lahir di Era Digital dan Media SosialTeknologi yang semakin berkembang bukan hal yang harus ditakuti atau dihindari, tetapi menjadi peluang jika bisa memanfaatkannya dengan bijak. Seperti facebook, twitter, instagram, youtube dan berbagai media sosial lainnya yang sanggup mengubah dunia hanya dalam satu kali klik.nak yang hidup di era digital dan media sosial seperti saat ini jelas berbeda dengan anak-anak yang lahir, besar serta tumbuh tanpa teknologi.
Sehingga orang tua pun harus cepat beradaptasi dan banyak belajar untuk mendidik anak-anak mereka.Berbagai kemudahan teknologi yang ada, menuntut orang yang meng-gunakannya secara bijak. Tetapi anak yang masih polos dalam berpikir dan sikapnya menjadi hal yang menakutkan jika tak ada yang bisa mengarahkan. Maka peran orang tua disini sangat penting, agar bisa mengarahkan dan mendidik anak-anaknya yang hidup di era digital dan media sosial.
Anak-anak hari ini dihadapkan dengan sejumlah permasalahan yang sangat serius, seperti pelecehan seksual pada anak-anak di bawah umur baik laki-laki maupun perempuan, kasus sodomi, dan pornografi. Ini sungguh mere-sahkan. Bisa dibilang bahwa anak-anak Indonesia sedang mengalami darurat seksual.
Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat pada tahun 2015 terdapat 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan, berarti sekitar 881 kasus setiap hari. Angka tersebut didapatkan dari pengadilan agama sejumlah 305.535 kasus dan lembaga mitra Komnas Perempuan sejumlah 16.217 kasus.
Menurut pengamatan mereka, angka kekerasan terhadap perempuan meningkat 9 % dari tahun sebelum-nya.Menurut Catatan Tahunan 2016 Komnas Perempuan, dari kasus kekerasan terhadap perempuan, kekerasan seksual berada di peringkat kedua, dengan jumlah kasus mencapai 2.399 kasus (72%), pencabulan mencapai 601 kasus (18% dan sementara pelecehan seksual mencapai 166 kasus (5%).
Dengan banyaknya kasus pelecehan seksual tersebut, tentu orang tua harus melek dan waspada serta memper-siapkan segalanya agar anak-anak tidak lantas ikut-ikutan menjadi korban. Maraknya kasus pelecehan seksual tidak terlepas dari tanggung jawab anak itu sendiri, orang tua, masyarakat sekitar, pemerintah bahkan peranan media digital dan media sosial.
Semuanya memilki peranan masing-masing. Selain karena ketidaktahuan si anak itu sendiri, anak yang lepas dari pengawasan orang tua ketika memainkan gadget dan media sosialnya menjadi salah satu penyebab yang lebih dominan. Mereka jadi sangat mudah mengakses apapun yang diinginkan, tanpa ada yang melarang dan mengawasi.
Dengan berbagai kebebasan tersebut, anak-anak jadi hilang kendali bahkan bisa melakukan lebih jauh dari apa yang dibayangkan. Hal itu terbukti ketika banyak anak-anak yang juga seorang pelajar menjadi pelaku kejahatan seksual tersendiri.Peranan orang tua dalam mengawasi anak-anak saat bermedia sosial atau menggunakan gadgetnya sangatlah penting. Orang tua harus siap mendampingi anak-anaknya untuk menga rahkan cara bermedia social yang positif.
Pengawasan ini juga menjadi bentuk tanggung jawab orang tua agar anak-anak tidak salah langkah atau bahkan mencari tahu hal-hal yang tidak layak dikonsumsi. Selain pengawasan yang ketat, orang tua juga bisa memasang pengamanan dalam media bersosial. Saat ini sudah banyak aplikasi khusus yang diperuntukkan orang tua dalam mengawasi anak-anaknya.
Hal terpenting dari penyelamatan moral anak-anak sebagai generasi penerus bangsa adalah kerjasama dari berbagai pihak, baik itu pemerintah, instansi, organisasi sosial masyarakat, orang tua, dan dari anak-anak itu sendiri. Anak-anak adalah para penerus calon pemimpin bangsa di masa mendatang. Tentu, pendidikan moral dan karakter yang ditanamkan sejak dini akan berdampak ketika mereka sudah dewasa dan memiliki kapabilitas serta kekuatan karakter kepemimpinan untuk memimpin bangsa Indonesia kelak. (***)