Breaking News
Home >> OTOMOTIF >> Mesin Kecil Belum Tentu Ramah Lingkungan
uji-emisi-gratis

Mesin Kecil Belum Tentu Ramah Lingkungan

Banyak Skandal, Uni Eropa Berencana Perketat Uji Emisi

Agak mengherankan karena saat pabrikan lain mulai menggenjot penjualan mobil dengan mesin kecil, pabrikan Jerman Mercedes-Benz bersikukuh mempertahankan berkonfigurasi 4-silinder. Jawabannya ternyata filosofi “Mesin kecil belum tentu ramah lingkungan”.
Trend yang ada saat ini adalah, mesin tiga silinder yang dipasangkan turbocharger. Atau kalaupun empat silinder, kapasitasnya paling hanya 1,2 liter. Contoh paling mutakhir adalah Honda Civic yang dbekali mesin 4-silinder 1,5 liter dengan imbuhan turbocharger.
Teknologi turbo di mesin bensin maupun diesel yang sudah demikian maju memang mampu membuat mesin seminimalis itu untuk menghasilkan tenaga hingga hampir dua kali lipat, dengan konsumsi bahan bakar yang tetap minimalis.
Nah, menurut Reuters, ternyata hal seperti itu memang membuat bahan bakar lebih irit. Namun emisi yang dihasilkan sama saja, kalau tidak, maka lebih besar dari mesin biasa (mesin dengan kapasitas yang lebih besar).
Hasil tersebut didapat dari pengujian di keadaan sebenarnya, dimana mesin-mesin itu menghasilkan emisi NoX yang lebih besar. Skandal ‘dieselgate’ yang dilakukan VW, memicu diadakannya pengujian ulang oleh badan-badan lingkungan di seluruh dunia, dengan hasil yang mengejutkan.
Pengujian tertutup yang dilakukan dengan parameter oleh pabrikan, ternyata melenceng jauh saat mobil dikendarai di dunia nyata.
Mesin kecil dengan imbuhan turbo memang jika diuji diatas roller, akan menghasilkan emisi yang cukup baik karena lingkungan sekitarnya diatur. Pengaturan tersebut mencakup beban roller untuk mensimulasikan hambatan gulir (rolling resistance), suhu udara dan kelembaban yang dikendalikan, hingga kecepatan.
Saat berhadapan di kondisi sebenarnya, dengan beban kerja yang lebih berat dan lingkungan nyata mesin-mesin kecil ini ternyata menghasilkan emisi yang melebihi batas. Bahkan bisa hingga 15 kali llipat pada mesin diesel dengan kapasitas kecil.
Itulah kenapa Anda sebaiknya tidak perlu terlalu ‘pusing’ dengan angka klaim manufaktur jika menyangkut konsumsi BBM dan emisi gas buang.
Laporan Reuteurs tersebut, mengatakan bahwa regulator (pemerintah) di berbagai belahan Bumi sudah mengetahui bahwa mesin-mesin mungil mengeluarkan emisi yang lebih tinggi. Namun sayangnya, belum ada langkah kongkret yang diambil untuk memperbaiki hal ini.
Hasilnya, pemerintah di Uni Eropa akan menerapkan kewajiban uji emisi baru yang lebih ketat, dan tidak perlu menunggu lama, mereka akan mulai memberlakukan peraturan pengujian tersebut tahun depan. Pengujian yang lebih ketat ini diperkirakan akan ‘menghantam’ mesin bensin dengan kapasitas dibawah 1,2 liter, serta mesin diesel dibawah 1,5 liter.
Nah, kembali ke soal Mercedes-Benz tadi, hal-hal seperti itulah yang membuat mereka enggan untuk berpaling ke mesin di bawah 4-silinder. “Jelas bahwa mesin kecil tidak memiliki keuntungan,” tegas Thomas Weber, Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Mercedes-Benz. “Makanya kami tidak mau lompat ke 3-silinder.”
Senada dengan hal tersebut, Warih Andang Tjahjono, Vice President Director Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). “Kapasitas mesin bukan menjadi jaminan utama kendaraan akan mampu mengolah bahan bakar efisien. Yang penting justru tipe (jenis mesin) dan teknologi mesin, misalnya hybrid, fuel cell, dan lainnya,” sebutnya. (oto)