Breaking News
Home >> Headline >> Mudiyat: Gubernur Menghina dan Melecehkan
Mudiyat Noor
Mudiyat Noor

Mudiyat: Gubernur Menghina dan Melecehkan

KETUA Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi) Samarinda, Mudiyat Noor mengaku secara pribadi dan sebagai umat Islam tersinggung dan dilecehkan atas pernyataan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak menyebut warga Kaltim yang ikut dalam aksi bela Islam di Jakarta merupakan calon teroris.
“Kami tersinggung dan merasa dilecehkan dengan pernyataan Gubernur Awang menyebut warga Kaltim yang ikut demo di Jakarta adalah calon teroris. Pernyataan ini tidak nyambung, antara aksi bela Islam dan teroris. Selama ini kami ikut berpolitik dan membangun Kaltim disebut penebar teror. Dengan pernyataan itu justru memancing konflik dan memunculkan pertanyaan, apakah Gubernur Kaltim anti gerakan moral dan anti muslim? karena yang aksi di Jakarta adalah warga muslim,” tegas Mudiyat, malam tadi.
Tak hanya itu, Mudiyat yang juga mantan anggota DPRD Kaltim periode 2009-2014 asal Hanura itu mengaku turut serta dalam aksi bela Islam jilid II pada 4 November lalu di Jakarta. hal itu dilakukan karena berkaitan erat dengan keyakinan sebagai muslim. Apalagi, tuntutan diserukan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) adalah benar.
“Saya dan teman-teman ikut aksi 411 di Jakarta. Karena tuntutan yang dikawal umat muslim Indonesia memang benar ada penistaan agama dilakukan gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Lebih baik Gubernur Kaltim periksa kesehatan, karena pernyataannya tidak mengayomi masyarakat Kaltim. Kalau yang ikut aksi dianggap calon teroris, berarti umat Islam teroris, ini penghinaan terhadap keyakinan. Apakah gubernur muslim?” tanyanya.
Terkait ikut serta dalam aksi bela Islam, Mudiyat kembali menegaskan hal itu sebagai hak warga negara yang beragama Islam untuk turut serta dalam aksi tersebut. “Karena saya muslim, maka kewajiban saya ikut membela. Saya berangkat ke Jakarta adalah hak saya. Tidak ada yang bisa melarang,” ungkapnya.
Soal pernyataan orang nomor satu yang dinilai dapat memicu perpecahan ummat, Mudiyat sedang koordinasi dengan Kahmi Nasional dan tim advokat untuk mengkaji pernyataan tersebut. “Karena ini berkaitan dengan pecah belah umat, bukan terorisme. Karena, orang muslim tidak bisa digeneralisir sebagai teroris. Sebab, teroris tak hanya orang muslim dan siapapun bisa jadi teroris. Kenapa harus mengklaim peserta aksi bela Islam calon teroris,” herannya. (ca)