Home >> Bontang - Kutim >> Okupansi Rendah, Keberatan UMK Rp2,4 Juta

Okupansi Rendah, Keberatan UMK Rp2,4 Juta

BONTANG – Lagi, Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) keberatan dengan nominal baru upah minimum kota (UMK). Hasil rapat bersama Dewan Pengupahan Kota (Depeko) dan Disosnaker Bontang menyepakati UMK di angka Rp 2,4 juta. Dengan tingkat hunian yang rendah, UMK itu dikhawatirkan membuat pengusaha hotel gulung tikar.
Plt Ketua PHRI Sutikno mengatakan, krisis keuangan nasional turut mempengaruhi bisnis perhotelan di Kota Taman. Tingkat hunian di hotel sekelas Bintang Sintuk saja mengalami penurunan hingga di bawah 40 persen. Besaran itu dinilai sebagai penurunan yang cukup tajam.
“Nah bagaimana dengan yang hotel melati? Bisa-bisa tutup. Kondisi saat ini, harga batubara lagi turun, mau tidak mau harus menyesuaikan juga. Berat teman-teman untuk memenuhi kebutuhan pemerintah,” ungkapnya.
Menurut Tikno, kenaikan upah karyawan seharusnya diikuti dengan pemasukan. Nah, jika dalam kondisi seperti ini, mustahil untuk pengusaha hotel menaikkan upah karyawannya. Belum lagi pos anggaran operasional hotel dalam sebulannya, menggunakan dana tak sedikit.
“Yang ada malah besar pasak dari pada tiang. Kalau di hotel Sintuk, kami sudah mengikuti ketentuan pemerintah dengan standar UMK. Tapi PHRI secara bisnis khususnya hotel yang bukan bintang sulit saya rasa,” jelas Tikno yang merupakan Direktur Operasi dan Pemasaran Hotel Bintang Sintuk.
Dia berharap, Pemkot Bontang dapat mengerti kondisi pelaku usaha bisnis perhotelan. Jika dipaksakan besar kemungkinan akan banyak karyawan hotel yang dirumahkan. Mestinya, ada solusi yang ditawarkan pemerintah menyikapi kondisi sulit seperti ini. Karena, kalau pengusaha perhotelan gulung tikar, pasti akan terjadi pemutusan hubungan kerja besar-besaran, yang sejatinya merupakan keputusan yang sangat tidak diinginkan. (ram914)