Kopi dan Gaya Hidup


korankaltim
korankaltim
Koran Kaltim     3 bulan yang lalu     189 kali
img

KOPI tidak sebatas berfungsi sebagai penghilang kantuk atau teman bergadang nonton bola, namun telah berubah menjadi kode simbolik sebagian kalangan untuk mengaktualisasikan keberadaan mereka dalam kelompok sosial

Sebagai orang Indonesia, tentu kita mengenal berbagai macam jenis kopi mulai dari Kopi Gayo, Kopi Lampung, Kopi Jawa, Kopi Toraja sampai Kopi Luwak. 

Berbagai jenis kopi ini bukanlah kopi sachet seperti yang sering kita lihat sejumlah warung atau toko, melainkan melainkan berbagai jenis kopi yang konon tumbuh di pedalaman Indonesia. Maka tidak heran, jika banyak sekali orang yang mengidentikkan kopi Indonesia dengan banyak jenisnya tersebut menjadi satu cita rasa yang sama. 

Ketika kini kita melihat kedai-kedai kopi bertebaran di sejumlah tempat, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Makassar dan Surabaya, kopi nampak menjadi kisah tersendiri untuk sebagian orang. 

“Ngobrol di kafe atau gerai kopi tentu lebih nyaman dibanding tempat lain. Kita bisa diskusi apa saja di tempat tersebut,” kata seorang teman yang gemar minum kopi di salah satu gerai kopi ternama. 

 Memang, kedai-kedai kopi tersebut sekarang menjadi bagian dari gaya hidup dan mode tersendiri sebagian kalangan. Kedai-kedai kopi yang berlokasi di mall-mall dan pusat perbelanjaan tersebut menjadi tempat dan lokasi meluangkan waktu yang tersisa dari rutinitas padat sebagian orang dan berkembang menjadi bentuk sarana aktualisasi sosial.

Sebagaimana bisnis lain yang menggunakan stategi gaya hidup, kedai-kedai kopi tersebut berusaha memperdagangkan “simbol”. Melalui berbagai saluran, produk dijadikan simbol sehingga konsumen dapat mengkonsumsinya dan terus direproduksi sehingga menciptakan jaring simbolik yang tek akan pernah terputus. 

Secangkir kopi kemudian menjadi perangkat simbol yang sangat luar biasa karena tidak sebatas berfungsi menjadi penghilang kantuk atau teman bergadang nonton bola,namun telah berubah menjadi sebagai kode simbolik yang digunakan sebagian kalangan penikmatnya untuk mengaktualisasikan keberadaan mereka dalam kelompok sosial. 

Padahal jika ditelusuri sejarah komoditas kopi - tanpa embel-embel urusan trend dan gaya hidup - pemegang tradisi panjang dari sejarah kopi pada mulanya banyak diperdagangkan orang-orang Eropa khususnya Belanda dan Inggris dari perkebunan-perkebunan jajahan mereka di Jawa, Sumatera, Afrika Timur, Brazil dan Kepulauan Karibia.

Perkembangan bisnis di jaman globalisasi ini cenderung seperti dilakukan oleh gerai-gerai kopi tersebut. Selain menggarap produk mereka juga menggarap konsumen, dengan merumuskan jargon bisnis jaman kontemporer yang penuh dengan simboliasasi seperti nikmatnya kemewahan, eksklusivitas, suasana yang relaks dan sebagainya.  

Seperti inilah sihir dunia konsumsi dan gaya hidup. Saat sebuah komoditas dilekatkan dengan berbagai asosiasi, maka mana yang muncul adalah romansa, kemewahan dan prestise yang seakan-akan menjadi lazim ketika makin populer dan digemari konsumen. 

Kecerdikan dari tangan globalisasi yang mungkin tidak disadari ini telah berubah menjadi semacam bagian dari budaya yang dikonstruksi sebagai bentuk pelaziman. 

Demikianlah kisah secangkir kopi yang sekarang ini tidak lagi harus dikaitkan dengan penghilang rasa kantuk. Tentunya, kita juga hanya ingin menikmati secangkir kopi tanpa harus berpikir keras soal sejarah panjang dan konsekuensi lanjutannya. (bsc)


baca LAINNYA