Home >> Headline >> Ormas Islam Tuntut Awang Minta Maaf

Ormas Islam Tuntut Awang Minta Maaf

Jika Tak Respons, Ancam Aksi Massa

SAMARINDA – Pernyataan kontroversial Gubernur Awang Faroek Ishak menuai kecaman sejumlah ormas Islam di Kaltim. Pasalnya, Awang menyebut warga Kaltim yang ikut aksi bela Islam di Jakarta menjadi calon teroris dan patut dicurigai. Pernyataan itu bermuara pada tuntutan permohonan maaf sang gubernur kepada peserta aksi bela Islam di Kaltim serta umat Islam yang tersinggung atas ucapan orang nomor satu di Benua Etam tersebut.
Ketua FPI Samarinda, Rasyid Ridla menuntut Awang Faroek minta maaf terbuka, khususnya peserta aksi bela Islam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI).
“Kami mewakili peserta aksi bela Islam di Jakarta menuntut Gubernur Awang yang sedang sakit-sakitan untuk meminta maaf ke seluruh peserta aksi secara terbuka di seluruh media. Karena pernyataan menyebut warga ikut aksi sebagai calon teroris menyinggung dan menghina,” tegas Rasyid kepada Koran Kaltim, Kamis (24/11).
Bahkan, Rasyid justru menilai, imbas pernyataan itu bermuara pada penilaian menyebut orang nomor satu di Kaltim itu sebagai teroris.
“Sebenarnya, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak yang teroris. Karena menghalangi orang untuk menyampaikan pendapat dimuka umum, yang jelas-jelas dilindungi pasal 18 UU 9/1998 berbunyi “Barang Siapa yang menghalangi unjuk rasa damai dengan kekerasan yang dilindungi UU, dapat di pidana 1 tahun penjara. Siapapun tak bisa melarang unjuk rasa, termasuk gubernur bahkan presiden,” sebut Rasyid.
Dia menyarankan Awang Faroek belajar membaca UU yang mengatur tentang penyampaian pendapat di muka umum. “Kita maklumi pernyataan seperti itu, karena sudah renta dan sedang sakit. Kami doakan Pak Awang sehat lagi,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kaltim, Mursidi Muslim menilai pernyataan tersebut tak layak terlontar dari mulut seorang gubernur. Sebab, tudingan calon teroris melukai umat Islam yang sebelumnya turut serta dalam aksi bela Islam jilid II, 4 November lalu.
“Kami sangat menyayangkan pernyataan gubernur. Karena berdampak sangat luas. Apalagi kita tahu bersinggungan dengan hal sangat sensitif dan bisa ciderai stabilitas keamanan dan kenyamanan umat beragama. Apalagi aksi bela Islam jilid III merupakan lanjutan dari aksi sebelumnya,” tegas Mursidi, kemarin.
Mursidi yang juga anggota DPRD Kaltim ini menilai pernyataan Awang saat hadir dalam acara Forum Komponen Pimpinan Daerah Kaltim di Aula Makodam VI/Mulawarman, Rabu (23/11) lalu di Balikpapan itu sangat berlebihan dan tidak memiliki dasar. Karena itu, Ketua Kahmi Kaltim menuntut Awang segera menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Kaltim dan menarik ucapannya.
“Awang tak layak bicara soal aksi bela Islam jilid III. Menyampaikan aspirasi itu hak warga negara dan gubernur tak berhak intervensi. Kahmi Kaltim kecam sikap gubernur yang mengucilkan kami yang ikut aksi. Gubernur seharusnya jadi contoh, bukan jadi pemicu masalah. Gubernur seharusnya tidak “ngawur” dan jangan asal bicara. Apalagi mantan bupati, mantan anggota DPR dan politisi senior, kok bicara seperti itu,” ucap Mursidi.
Hal senada juga diungkapkan Ketua Presidium Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA KAMMI) Kaltim, Wasis Riyanto juga menutntu Awang Faroek segera meminta maaf kepada masyarakat Kaltim, dan menarik kembali ucapannya.
“Kami heran, yang ikut aksi bela agama disebut calon teroris. Padahal, aksinya sangat damai meski ada gesekan terjadi setelah aksi damai. Kami tegaskan aksi lanjutan nanti akan super damai, sehingga tak ada yang perlu ditakutkan,” sebut Wasis.
Dia juga sebutkan, sikap Awang justru ciderai nilai demokrasi yang menjamin setiap warga negara berbicara dan berpendapat di depan umum. “Harus diingat, kemerdekaan sejarah bangsa ini tak lepas dari peran agama. Islam adalah agama yang berperan besar dalam kemerdekaan. Karena itu, kami heran dengan Gubernur Awang , kok bisa buat pernyataan seperti itu,” keluhnya.
Karena itu, Wasis menambahkan, jika tak ada respons dan Awang tak segera meminta maaf. Pihaknya mengancam galang elemen mahasiswa seperti Kahmi, HMI, IKA PMII, PMII dan lembaga lain menuntut Awang segera minta maaf. “Besok (hari ini) kami akan sampaikan sikap langsung ke Gubernur Awang Faroek. Tapi, kita tunggu respons lebih dulu. Jika tak direspon, kami konsolidasi dan gelar aksi,” ancamnya.
Ketua KAHMI Samarinda, Mudiyat Noor mengaku secara pribadi dan sebagai umat Islam tersinggung dan dilecehkan atas pernyataan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak yang menyebut warga Kaltim yang ikut dalam aksi bela Islam di Jakarta merupakan calon teroris.
“Kami tersinggung dan merasa dilecehkan dengan pernyataan Gubernur Awang menyebut warga Kaltim yang ikut demo di Jakarta adalah calon teroris. Pernyataan ini tidak nyambung, antara aksi bela Islam dan teroris. Selama ini kami ikut berpolitik dan membangun Kaltim disebut penebar teror. Dengan pernyataan itu justru memancing konflik dan memunculkan pertanyaan, apakah Gubernur Kaltim anti gerakan moral dan anti muslim? karena yang aksi di Jakarta adalah warga muslim,” tegas Mudiyat, dua malam lalu.
Seperti diberitakan sebelumnya, Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak melarang warganya ikut dalam aksi unjuk rasa jutaan umat Islam di Jakarta, menuntut penahanan tersangka dugaan penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Awang secara tegas mengklaim jika ditemukan warga Kaltim yang ikut dalam aksi bela Islam dan GNPF-MUI, maka warga dimaksud patut dicurigai sebagai calon teroris.
“Kalau ikut aksi ke Jakarta, mereka patut dicurigai. Karena, mereka itu calon teroris yang patut diwaspadai, sebab pemikirannya radikal dan saya anggap sebagai ekstra parlementer yang perlu diwaspadai,” cetus Awang saat pertemuan pimpinan daerah dengan tokoh agama, tokoh adat serta tokoh masyarakat di Aula Makodam VI/Mlw, Rabu (23/11) lalu. Karena itu, pihaknya menyerukan untuk lakukan pengawasan ketat bagi warga yang tetap hendak berangkat ke Jakarta. (ca/man)

Danrem: Aksi di Kaltim Saja

RATUSAN personel TNI-Polri gelar apel kesiapsiagaan, Kamis (24/11) di Halaman Parkir GOR Sempaja Samarinda. Hal itu dilakukan untuk antisipasi aksi unjuk rasa bela Islam jilid III akan digelar 25 November (hari ini) dan 2 Desember mendatang. Komandan Resort Militer (Korem) 091/Aji Surya Natakesuma, Brigjen TNI Makmur Umar saat memimpin apel mengimbau warga Kaltim tak bertolak ke Jakarta untuk gelar aksi bela Islam. Makmur berharap aksi tersebut cukup digelar di Kaltim.
Jenderal bintang satu itu menekankan, demi tegaknya kedaulatan, kesatuan dan persatuan NKRI, sebagai aparat negara pihaknya harus jadi pengayom masyarakat, memberi informasi yang baik dan tak menyesatkan serta mudah dimengerti dan dipahami masyarakat. Sehingga tak mudah terpengaruh dengan isu-isu negatif atas situasi dan kondisi berkembang di wilayah lain. “Tak perlu ke Jakarta. Aksi di Kaltim saja,” harapnya singkat. (man)