Dipublish: 5 Juni 2013, 22:36

Pelaku Gendam Diduga Sikat Miliaran

SAMARINDA –Enam orang tersangka pelaku gendam yang digawangi Amir (36), yang kerap beraksi di Samarinda berhasil diamankan polisi polresta Samarinda  dua minggu yang lalu. Namun pada Jumat lalu kompolotan gendam kembali beraksi dengan modus yang sama dengan pelaku yang telah tertangkap.
Ketika itu di Jalan Gajah Mada Samarinda seorang perempuan berinisial NB (38) jadi korban gendam. Saat sang korban yang baru pulang dari pasar menumpang angkot dan korban bertemu dengan komplotan gendam. Tanpa sadar uang korban sebesar Rp 15 juta berpindah tangan.
“Saat itu korban baru pulang dari pasar dan menumpang sebuah angkot dimana di atasnya ada pelaku gendam. Tanpa sadar ia pun menyerahkan uang yang saat itu ia bawa,” kata Kapolresta samarinda Kombespol Arief Peapto Santoso, malalui Kasatreskrim Kompol Feby Dp Hutagalung, kemarin.
Mengenai pelaku gendam yang baru tersebut, modusnya sama dengan enam pelaku yang berhasil di amankan polsi 14 hari yang lalu, mereka menggunakan angkot sebagai tempat operasi. Namun Feby mengatakan bahwa itu merupakan jaringan yang lain.
“Modusnya sama namun orangnnya beda, Amis cs mengaku tidak mempunyai komplotan lain,” singkat Feby.
Diketahui, jumat (22/5) enam pelaku gendam di bekuk polisi bernama, Amir (36), Purnageni (42) rudy rustam (34) Napin (35), Hendra (33) dan iksan (24), yang dibekuk ketika tengah berkumpul di simpang empat Forvo Samarinda.
Sebagai informasi modus yang dilakuakn Amir cs dalam melakuklan aksinya adalah menyewa sebuah angkot, kemudian berkeliling kota dan mencari mangsanya dimana kebanyakan korban adalah wanita.
Sementara itu, Feby menambahkan berdasarkan hasil pengakuan tersangka yang telah beraksi ratusan kali dan berpindah pindah tempat, mulai dari Samarinda, Balikpapan dan Makassar Sulawesi selatan. Profesi pelaku gendam telah mereka kerjakan sejak tahun 2011, Amir cs diperkirakan berhasil meraup keuntungan hingga miliaran rupiah. “Pemikiran kami bisa jadi keuntungan yang didapat mereka sampai miliaran. Bayangkan saja beraksi sejak 2011, berpindah pindah dan setiap korbannya mengalami kerugian sekitar sepuluh juta ke atas,” paparnya. (sar113)

Bagikan Berita Ini

  • Facebook
  • Twitter
  • Blogger