Breaking News
Home >> Kutai Kartanegara >> Penilaian Adipura Lebih Berat
EKSPOSE: Penilai Adipura dari Kemen LHK Adi Kusuma saat memberikan arahan kepada jajaran Pemkab Kukar.
EKSPOSE: Penilai Adipura dari Kemen LHK Adi Kusuma saat memberikan arahan kepada jajaran Pemkab Kukar.

Penilaian Adipura Lebih Berat

Korupsi dan Tambang Ikut Dinilai

TENGGARONG – Mulai tahun ini, penilaian Adipura bagi kota dan kabupaten se-Indonesia lebih berat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) memasukkan praktek korupsi dan manajemen tambang sebagai bagian dari penilaian.
“Ada salah satu kota di Indonesia gagal meraih Adipura hanya karena DPRD mengkritisi bupatinya terlibat korupsi. Isu itu kemudian hangat di masyarakat. Akhirnya kota tersebut gagal meraih Adipura,” kata salah seorang penilai Adipura dari Kementerian LHK, Adi Kusuma saat menyampaikan materi ekspose persiapan Kota Tenggarong meraih Adipura periode 2016-2017 yang digagas BLHD Kukar di Grand Fatma Hotel Tenggarong, Rabu (19/10).
Kepala daerah yang telah berstatus terdakwa hampir bisa dipastikan daerahnya tidak akan meraih Piala Adipura. “Tim penilaian akan bersifat lentur apabila kepala daerah masih berstatus saksi atau tersangka,” ujarnya.
Menurut Adi, kekhasan lokal masyarakat, efisiensi birokrasi agar investasi prolingkungan mudah masuk ke daerah, serta inovasi yang dilakukan pemerintah daerah agar masyarakat puas dengan pelayanan pemerintah, serta ruang terbuka hijau juga menjadi pertimbangan.
“Biasanya, kalau masyarakat puas dengan pelayanan yang diberikan pemerintah, masyarakat percaya dengan apa yang diarahkan pemerintah. Misalnya, kalau masyarakat sulit diajak gotong royong, maka bisa jadi kepercayaan masyarakat sudah mulai luntur sehingga tidak mendengarkan seruan pemerintah,” ujarnya.
Adi berpesan agar penilaian tamba-han itu tidak dijadikan beban. Pemkab Kukar diharap tetap fokus dengan penilaian wajib, seperti penanganan TPA, kebersihan ruang publik , dan pemaksimalan ruang terbuka hijau kota.
“Kegagalan Kota Tenggarong meraih Piala Adipura tahun ini bukan hanya persoalan laporan kematian anak di lubang tambang, akan tetapi harus dievaluasi juga di TPA Bekotok apakah sudah dalam penanganan yang peduli terhadap lingkungan. TPS yang ada di beberapa titik di kota Tenggarong, apakah dirawat dengan baik atau tidak,” imbuhnya.(ran415)