Breaking News
Home >> Kesehatan >> Pentingnya Peran Suami Saat Istri Depresi
ILUSTRASI
ILUSTRASI

Pentingnya Peran Suami Saat Istri Depresi

DEPRESI pasca melahirkan bisa dialami oleh setiap ibu. Pakar mengatakan peran suami sangat besar dalam memengaruhi faktor risiko munculnya depresi.
dr Eka Viora, SpKJ, Ketua Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengatakan bahwa dukungan suami sangat penting dalam membantu ibu mengatasi masalah depresi pasca melahirkan. Suami diharapkan mau membantu, bukannya menyalahkan atau lebih buruk lagi, menceraikan dan meninggalkan istri.
“Namanya penyakit, depresi pasca melahirkan bisa disembuhkan. Selain dengan obat dan terapi, yang paling penting itu adanya dukungan dari keluarga dekat, suami contohnya, dengan memberikan support moril dan mau mendengarkan cerita istri,” tutur dr Eka, beberapa waktu lalu.
Kurangnya pemahaman mengenai gangguan jiwa membuat kondisi depresi sulit terdeteksi. Apalagi jika ibu mengidap gangguan psikotik yang ditandai dengan munculnya suara dan bisikan untuk melukai atau melakukan kekerasan pada anak, suami bisa kehilangan simpati dan malah meninggalkannya.
“Harusnya jangan diceraikan. Kan ini tidak dilakukan dengan sadar, mana ada sih orang tua mau bunuh anaknya sendiri. Ibu melakukan hal itu (melukai atau membunuh anak) karena dianggap benar karena gangguan mentalnya,” papar dr Eka lagi. Oleh karena itu, pencegahan depresi pasca melah irkan bisa dilakukan oleh suami sejak istri hamil. Dikatakan dr Eka, gejala umum terjadinya gangguan jiwa adalah terjadinya perubahan perilaku, perasaan dan pola pikir.
Kehamilan memang membuat istri mengalami perubahan mood yang cukup tinggi. Namun harus dilihat apakah perubahan mood ini mengarah ke sisi negatif atau positif. Jika memang ibu sering menangis saat hamil, suami sudah harus waspada. Setelah bayi lahir pun perubahan perilaku dan pola pikir bisa terlihat jelas.
Jika suami melihat ibu mulai kasar atau bahkan cuek terhadap anak, atau mulai mengeluhkan adanya bisikan atau suara gaib, dikatakan dr Eka sebaiknya segera bawa istri ke dokter untuk melakukan pemeriksaan. “Untuk disebut gangguan, harus ada sekumpulan gejala yang khas. Kalau merasa ada, bisa dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan pertama atau langsung ke psikolog atau dokter jiwa,” tandasnya. (dtc)