Breaking News
Home >> Ekonomi kaltim >> Peran Berau Kurangi GRK

Peran Berau Kurangi GRK

TANJUNG REDEB – Berau mendapat kesempatan untuk tampil pada rangkaian acara Indonesia Pavilion di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi PBB yang dihadiri oleh 109 negara. Side event bertajuk Indonesia Pavilion ini sengaja disiapkan oleh Peme-rintah Indonesia untuk menampil-kan berbagai upaya Indonesia untuk menurunkan emisi gas ru-mah kaca (GRK) sehingga bisa mengurangi dampak perubahan iklim global.
Dalam kesempatan itu, Bupati Berau menyampaikan pembelaja-ran dari Kabupaten Berau yang selama ini telah banyak melaku-kan kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Profil Berau disampaikan secara ringkas oleh Muharram dengan seluruh potensinya baik dari sisi ekonomi, maupun dari aspek lingkungan.
Dari seluruh daratan Kabupaten Berau, 75 persen diantaranya masih berhutan dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan menjadi habitat satwa penting seperti orangutan, beruang madu, burung enggang dan lainnya. Selain memiliki hutan yang sangat lebat, Kabupaten Berau juga memiliki wilayah laut yang masuk dalam area Segitiga Karang dunia (Coral Triangle) dan merupakan habitat penyu, hiu tutul, dan berbagai jenis karang yang menjadi daya tarik wisata.
“Kami sebagai daerah dengan hutan yang luas sebagai penyumbang oksigen di dunia sekaligus mengurangi emsisi gas rumah kaca memerlukan mitra untuk bekerjasama memper-tahankan hutan Berau yang manfaatnya juga untuk dunia,” tegas Muharram dalam rilis pers yang diterima Koran Kaltim.
Selain itu Berau juga memiliki Karst yang saat ini sudah masuk dalam tentative list warisan dunia UNESCO. Saat ini populasi penduduk di Kabupaten Berau 218.124 orang (2015) yang tersebar di 13 kecamatan dengan 100 kampung. Pertumbuhan ekonomi Berau pada tahun 2015 mencapai 5,07 % dengan nilai Gross Regional Domestic Product senilai USD2 milyar yang didominasi oleh sektor pertambangan (61%) dan pertanian/perkebunan (11%).
Pemerintah Kabupaten Berau memiliki peluang luar biasa untuk memanfaatkan seluruh sumber daya alam yang ada. Sebagaimana disebutkan diatas sebagian besar ekonomi Berau sangat bergantung pada pertambangan batubara dan perkebunan kelapa sawit. Dengan pendapatan ekonomi yang sangat tergantung dengan sumber daya alam, penurunan kualitas lingkungan menjadi tidak terhindarkan.
Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan tambang serta sektor perkayuan cukup signifikan mengurangi tutupan hutan di Kabupaten Berau. Emisi dari deforestasi dan degradasi lahan yang disebabkan oleh pembukaan lahan kelapa sawit berkontribusi sekitar 44% dari total emisi dari penutupan lahan. Sekitar 35% dari total emisi berasal dari sektor perkayuan. (sam)