Home >> Headline >> Polri Tetapkan 7 Tersangka

Polri Tetapkan 7 Tersangka

Diduga Terlibat Bom Gereja Oikumene, Samarinda

JAKARTA – Polisi menetapkan 7 tersangka dalam kasus pelemparan bom molotov di depan Gereja Oikumene Samarinda. Ketujuh tersangka diantaranya Juhanda, Su, Ad, Rd, Gi, Ro dan Jo disebut telah berbaiat ke ISIS.
“Ya, bisa disebut mereka kelompok yang berbaiat kepada ISIS. Dengan dokumen yang ada, simbol-simbol yang ada, barang bukti yang ada, mereka dapat dikatakan dikategorikan (berbaiat kepada ISIS. Walaupun derajat keterlibatannya diawali dengan rasa simpati ingin ikut berjuang seperti orang-orang yang ada di Suriah, di Irak, dan diimplementasikan di Indonesia,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar kepada wartawan usai menghadiri Tablig Akbar di Kwitang, Jakarta Pusat, Minggu (20/11).
Boy menjelaskan para tersangka ini berbeda kelompok dengan teroris yang beraksi di Bekasi dan Jakarta Barat. Ketujuh tersangka ini tergabung dalam Jemaah Ansoru Daulah Khilafah Nusantara (JADKN). “Secara umum saya sampaikan ini merupakan jaringan kelompok mereka tergabung dalam JADKN. Jadi mereka banyak membawa, mengajak, merekrut orang-orang yang akan berangkat ke Suriah. Ada yang mencari, ada yang membantu. Umumnya bermain pada level itu. Seperti Abu Fauzan di Batak. Mirip itu jaringannya,” papar Boy.
JADKN merekrut orang-orang untuk diberangkatkan ke Suriah dalam 2 hingga 3 tahun terakhir. “Kita masih periksa. Yang jelas mereka didasarkan kepada pemeriksaan terdahulu. Orang-orang yang sudah berangkat, dikembangkan, kemudian ada kaitannya dengan mereka-mereka ini. Sekarang ini mereka diamankan, dan kemudian mereka akan dikembangkan lagi kira-kira sudah sejauh mana langkah-langkah mereka dalam melakukan pengiriman-pengiriman itu,” ujar Boy.
Sementara itu, Kapolres Samarinda, Kombes Setyobudi Dwiputro dihubungi detikcom, Ahad (19/11) dihubungi detik.com menjelaskan ketujuh tersangka dibawa ke Mabes Polri. “Iya, 7 tersangka sudah dibawa ke Jakarta,” kata Setyobudi, kemarin.
Tujuh orang tersangka itu merupakan bagian dari 21 orang yang sebelumnya ditangkap. Sementara itu, sisanya sekitar 14 orang dilepaskan polisi. “Sisanya enggak ada keterkaitan,” ujarnya.
Informasi diperoleh, 7 tersangka tersebut dibawa ke Jakarta melalui jalur udara pukul 18.55 WITA tadi. Para tersangka diduga terlibat ledakan bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda Ahad (13/11) lalu. Saat itu, pria yang melemparkan bom, Juhanda (32) ditangkap ketika hendak melarikan diri ke Sungai Mahakam. Akibat ledakan itu, lima korban luka. Satu diantaranya, Intan Olivia meninggal dunia setelah mendapat perawatan di rumah sakit karena luka bakar berdampak pada pernapasan.

Ibadah Perdana DI Oikumene

Ahad (20/11) kemarin menjadi ibadah perdana umat kristiani di Gereja Oikumene, Sengkotek, Loa Janan Ilir, Samarinda pascaperistiwa teror bom molotov terjadi Ahad (13/11) lalu. Aktivitas ibadah dijaga aparat polisi itu berlangsung penuh antusias.
Meski masih menyisakan trauma. Hal itu diungkapkan Majelis Jemaat Huria Kristen Batak Protetestan (HKBP), Kalimir Samosir. “Masih ada trauma, sebagian orang tua masih takut datang ke gereja untuk ibadah. Apalagi anak-anak, banyak yang takut datang. Untuk melewati gereja saja, anak-anak masih ketakutan,” ujar Kalimir, kemarin.
Namun, umat Kristiani saling bujuk dan yakinkan tetap berangkat ke gereja. “Makanya kita bujuk agar mereka ikut sembahyang bersama orangtuanya. Ternyata, anak-anak mau dibujuk datang ke gereja,” sebutnya.
Saat ibadah berlangsung, jemaat yang hadir tampak sesak, hingga beberapa diantaranya harus duduk di teras. Kalimir mengatakan, beberapa jemaat berasal dari gereja Balikpaapn yang secara khusus datang ke Samarinda. “Ada tamu kami dari gereja Balikpapan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kapolsekta Samarinda Seberang Kompol Bergas Hartoko mengatakan, tak hanya personel Polri, beberapa personel Koramil Samarinda Seberang turut melakukan pengamanan di sekitar lokasi gereja. “Ada sejumlah personel dari Polsekta dan Koramil. Ibadah di Gereja Oikumene berjalan lancar, dan akan dilanjutkan ibadah pada malam (tadi malam),” tambah Bergas.

Warga Girimukti Masih TRAUMA

Meski telah mengamankan kedua terduga teroris dari Desa Girimukti, Jumat (18/11) lalu. Namun, kehebohan di desa yang tidak diduga sebelumnya bakal menjadi persembunyian terduga teroris masih terasa dan menjadi pembicaraan, khususnya warga RT 16 Desa Girimukti, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara (PPU).
Sebagian warga mengaku kaget, ketika tahu desa mereka dijadikan lokasi persembunyian dua terduga teroris yang diringkus Detasemen Khusus (Densus) 88 Polda Kaltim di kediaman Marjito (40). Kedua terduga masing-masing Jo (49) dan Ro (20) diduga kuat terkait jaringan Juhanda (32) pelaku pengeboman Gereja Oikumene di Sengkotek, Loa Janan Ilir, Ahad (13/11) lalu.
Seperti diungkapkan Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Girimukti, Gafri Gani kepada Koran Kaltim, Ahad (20/11) mengaku tak menduga kedua terduga teroris sembunyi di Desa Girimukti.
“Terus terang kami kaget, kenapa mereka sembunyi di desa kami dan semalam dua hari bersama Pak Marjito. Rumah yang bersebelahan dengan PLTD Petung Silkar. Bahkan, Marjito tak kenal keduanya, hanya karena saudaranya Marjito di Samarinda meminta untuk menampung kedua terduga teroris,” katanya.
Karena itu, Gani imbau warga agar proaktif melaporkan tamu atau pendatang ke ketua RT setempat, minimal 1×24 jam. Hal itu untuk jaga keamanan dan ketertiban lingkungan desa. Selain itu, pendatang yang menyewa dan menetap di Desa Girimukti diminta melaporkan identitas diri ke ketua RT setempat.
Sementara itu, Samsi tetangga Marjito menambahkan, sejak Jumat pagi, sebelum kedua terduga teroris ditangkap aparat Densus 88. Seperti biasanya, di halaman rumah ada beberapa anak bermain, termasuk anak Marjito. Tapi, saat anggota Densus dan beberapa polisi berpakaian dinas dan preman meminta Samsi dan anak-anak segera masuk rumah.
“Saat kami masuk rumah, saya dengar suara letusan senjata api sebagai peringatan dan suara petugas meminta keduanya menyerahkan diri. Setelah itu, langsung meringkus kedua terduga teroris dan membawanya ke Polda Kaltim,” tutur Samsi.
Selain itu, Samsi juga mengaku selama semalam dua hari di rumah tersebut, kedua terduga teroris diakui tak pernah keluar dari rumah yang disewa Marjito yang sebelumnya tinggal di Samarinda dan menetap di PPU dan bekerja sebagai penjaga kebun kelapa sawit milik orang lain.
“Kami ragu jika Pak Marjito terlibat tindakan teror, selama ini pribadi Marjito sangat lugu dan baik, sehingga mau menerima dua orang yang tidak dikenalnya. Informasi dari istri saya, kedua terduga mengaku datang dari Kalimantan Tengah dan hendak menuju Samarinda. Jadi, hanya mampir sekaligus belajar berkebun,” pungkasnya. (dtc/dor/nav)