Presiden Kolombia Raih Nobel Perdamaian 2016


korankaltim
korankaltim
2016-10-08 05:30:00
Berhasil Berdamai dengan Pemberontak FARC



OSLO – Komite Norwegia telah mengumumkan pemenang Nobel Perdamaian tahun ini adalah Presiden Kolombia Juan Manuel Santos. Ia dianggap layak menerima penghargaan tersebut berkat keberhasilannya membawa negaranya berdamai dengan pemberontak, Tentara Revolusioner Kolombia (FARC).

Pengumuman tersebut terbilang mengejutkan, karena sebelumnya sempat dirumorkan bahwa komite di Oslo telah mencoret nama sang presiden dan FARC dari daftar penerima penghargaan. Hal itu terjadi setelah rakyat Kolombia menyatakan penolakan terhadap hasil referendum dan rekonsiliasi pada 2 Oktober tersebut.

Seperti diwartakan The Guardian, Jumat (7/10/2016), komite Nobel menjelaskan, penghargaan itu tetap diberikan kepada Santos justru sebagai bentuk dukungan dan dorongan kepada negara tersebut untuk meneruskan proses perbaikan hubungannya.

“Komite berharap, penghargaan ini dapat memberikan mereka semangat untuk menyukseskan tanggung jawab ini. Lebih lanjut, komite berharap pada tahun-tahun yang akan datang, rakyat Kolombia akan menuai buah yang manis dari proses rekonsiliasi ini,” ujar juru bicara Komite Nobel.

Sang jubir juga menyambut baik komitmen Presiden Santos yang meyakinkan dirinya akan berjuang untuk perdamaian sampai akhir masa jabatannya. Menurut komite Nobel, semangat yang ditunjukkan Santos tersebut sama dengan pelopor penghargaan ini, yakni Alfred Nobel. Mereka menilai, perjuangan Kolombia untuk sampai ke titik ini sangat panjang dan melalui pertumpahan darah.

Sementara soal penolakan rakyat Kolombia, Komite Nobel memahami dan melihatnya sebagai hal yang berbeda. Jubir komite Nobel menerangkan, bukan perdamaian yang mereka tolak, melainkan ada detil lain dalam perjanjian damai itu yang tidak sesuai dengan kehendak mereka.

Perjanjian ini juga tidak dibagi dua dengan pemimpin FARC, Timochenko karena peran sang presiden dipandang lebih penting dalam menjaga proses perdamaiannya. Sementara mengenai kemungkinan komite memang tidak ingin memberikan penghargaan kepada tokoh pemberontak, jubir Komite Nobel menolak berkomentar. (okz)

baca LAINNYA