Home >> Balikpapan >> Proyek Tol PPU – BPP Ganggu Habitat Lumba-lumba

Proyek Tol PPU – BPP Ganggu Habitat Lumba-lumba

Diperkirakan 7-8 Ekor Lumba-lumba Hidup di Teluk Balikpapan

BALIKPAPAN –LSM Stabil menyampaikan sejumlah catatan penting dalam rapat konsultasi publik terkait proyek pembangunan jalan Tol Balikpapan-Penajam Paser Utara (PPU) yang berlangsung di Kantor Kecamatan Balikpapan Kota, kemarin.
Ketua LSM Stabil Jufri menilai proyek tersebut berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif pada lingkungan hidup, termasuk mengancam habitat lumba-lumba hidung botol yang diperkirakan ada 7-8 ekor di perairan Teluk Balikpapan.
Jupri mengatakan, pembangunan itu juga akan berdampak pada kualitas air di area pembangunan dan sekitarnya rusak. Selain itu terganggunya lalu lintas air di teluk Balikpapan, berimigrasinya biota air yang ada di area pembangunan jembatan serta kehidupan Lumba-Lumba yang berada di perairan Teluk Balikpapan terancam punah. “Proyek ini harus ada sinkronisasi antara pemerintah, instansi terkait, dan masyarakat. Terutama terkait dampak negatifnya dan harus ada opsi lain bukan memutuskan sepihak saja,” tandasnya.
Harusnya dalam pembangunan proyek ini masyarakat Balikpapan diberikan pilihan lokasi seperti PPU Gunung Steleng-Sungai Rico (Balikpapan) yang justru di lokasi jarak tidak mencapai empat kilometer seperti jalur Nipah-Melawai 6,5 kilometer. “Kalau dia memilih jalur Gunung Steleng-Sungai Rico ini akan menghidupkan wilayah sekitarnya seperti Jenebora dan itu juga tidak jauh dari lokasi industri Kariangau. Ke depan bisa saja dibangun jalur Kariangau –Somber. Ini juga akan tersambung lebih mudah,” tandasnya.
Dampak negatif lainya, muncul kemacetan yang lebih parah di Balikpapan terutama pada jalur keluar jembatan di Lapangan Merdeka. “ Ada coastal itu pun belum tentu. Kita juga belum tahu itu duluan mana terbangun jembatan atau coastal road. Itu juga jadi persoalan,” ujarnya.
“Persoalan lain lalulintas kapal, ketika ini ada bongkar muat minyak. Tanker itu tingginya bisa lebih 50 meter. Kan disitu ada pelabuhan, pertamina, belum lagi ada daerah lain seperti KIK. Makanya harus ada sinkronisasi antara pemerintah ketika perencanaan dengan kondisi yang ada. Kayaknya misalnya kalau terjadi pasang, lalu ada kapal besar lewat ya sudah berhenti dulu kapal itu tapi ingat ketika kapal Panos Yunani bongkar di tengah laut pakai ponton kemudian tidak muat kapasitas dan terjadi tumpahan lantung. Itu akan jadi pencemaran laut, ini maksud saya jangan sampai terjadi seperti itu. Gara-gara terjadi pasang, kapal tanker nggak bisa masuk,” kritiknya.
Meski demikian dia menghormati proses yang berjalan ini yang katanya sudah disetujui seluruh stakeholder bahwa jembatan tol ini dibangun di Nipah-nipah ruas Melawai Balikpapan. “Itu saya sampaikan dalam rapat tadi, tapi kan dalam rapat tadi harus ada kesepakatan. Ya saya hormati keputusan yang dibacakan tadi. Tapi memang harus perhatikan betul ketinggian jembatan itu,” tukasnya. (din)