Home >> Headline >> PT Badak Usul Tutup, Awang Tetap Pertahankan

PT Badak Usul Tutup, Awang Tetap Pertahankan

Soal Pulau Beras Basah

SAMARINDA – Vice President Production PT Badak LNG, Dedet Hendra berharap Pemprov dapat menutup Pulau Beras Basah yang selama ini menjadi salah satu objek wisata di Bontang.
Pasalnya, Pulau Beras Basah ini merupakan satu-satunya pulau terluar dan berada dalam kordinat Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) dan Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp) Pelabuhan Tanjung Laut. “Termasuk Pulau Beras Basah yang masuk dalam rancangan keamanan alur pelayaran TUKS Pertamina Badak LNG,” kata Dedet.
Menurutnya, adanya kegiatan pariwisata di Pulau Beras Basah dapat mengganggu kondisi keamanan, dimana jika kondisi keamanan tak dipenuhi, maka kapal LNG tak bersedia masuk dan sandar dalam TUKS tersebut.
Di wilayah tersebut, lanjutnya, berdasarkan aturan harus bersih dengan jarak 500 meter disekitarnya, agar tak menggangu kapal yang akan masuk. Terlebih lagi, dengan adanya kilang Bontang tentu membuat trafik kapal menjadi ramai.
“Itu ada navigasi, mercusuar, sehingga posisinya sangat kritis. Dalam posisi itu, keselamatan diutamakan agar tidak ada tabrakan dengan kapal wisatawan maupun benda apapun. Karena posisinya sangat penting sebagai alur navigasi. Kalau posisinya belum aman, kapal-kapal enggan masuk,” terang Dedet.
Menanggapi usulan itu, Gubernur Awang Faroek Ishak menegaskan Pulau Beras Basah harus tetap jadi tujuan wisata di Bontang.
“Wisata di Pulau Beras Basah itu dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Jadi, tidak benar terlambatnya bangun kilang karena Pulau Beras Basah,” katanya.
Terpisah, Kepala Bappeda Kaltim Zairin Zain mengatakan pulau beras basah masuk dalam RTRW Kaltim, tapi masuk ke kawasan industri PT LNG Badak.
“Tapi, karena jadi kebutuhan wisata masyarakat Bontang, jadi LNG mengalah, kalau ada bangunan liar pasti dilarang. Karena disitu mercusuar sudah berdiri,” sebutnya.
Jika mercusuar tersebut sudah berdiri, lanjut Zairin, maka tidak bisa diganggu lagi. Baik itu tambatan kapal maupun bangunan liar. “Karena itu alurnya PT Badak LNG untuk keluar masuknya kapal,” tambahnya. (amb)