Sebutan Kampung Zombie Terlalu Berlebihan


korankaltim
korankaltim
2016-10-07 05:00:47
SAMARINDA – Walikota H Syaharie Jaang menegaskan kalau sebutan kampung zombie untuk kawasan Samarinda Seberang karena banyaknya anak-anak yang jadi inhalant abuse atau menghirup asap lem untuk mendapatkan kenikmatan, terlalu berlebihan. Kendati begitu Jaan meminta agar camat, lurah bahkan ketua RT untuk berperan mengatasi masalah tersebut.

Hal ini disampaikan Jaang kepada media ini kemarin. “Tidak seperti itulah, terlalu berlebih-lebihan media menyebut Samarinda Seberang sebagai kampung zombie. Yang pasti saya sudah bilang kepada Satpol PP dan Dinas Sosial untuk memberantas masalah itu,” ucap Jaang.

Yang perlu dilakukan saat ini menurutnya adalah pembinaan dan kalau ada warga yang datang dari luar Dinkesos Samarinda diminta berkoordinasi dengan Dinas Sosial wilayah asal anak-anak itu berada dan nantinya akan dipulangkan ke daerah asalnya.

Hal ini diungkapkan Jaang karena anak-anak yang inhalan tersebut berasal dari luar daerah yang tidak diketahui dari mana asalnya. “Kalau semua orang yang datang ke Samarinda dan diizinkan masuk tanpa ada larangan tentu bahaya. Kalau dampaknya positif ya bagus saja, tapi kalau dampak negatif seperti ngelem itu, ya harus dicegah. Harus ada tindakan. Orang kita saja belum kita bina dengan baik. Harus ada ketegasan. Kalau sekarang ini kita bicara kemanusian, tapi harus ada batasannya, jangan sampai orang luar keenakan tinggal di Samarinda,” paparnya “Makanya saya juga meminta kepada camat dan lurah untuk memprihatikan masalah orang yang datang dan tinggal di daerahnya. Segera berkoordinasi dengan Dinkesos Samarinda dan Satpol PP Samarinda kalau ada masalah,” imbuhnya.

Terkait pencegahan terhadap penyalahgunaan lem yang saat ini tren di kalangan anak muda tersebut, salah satu langkah yang dilakukan Jaang selain melakukan koordinasi dengan pihak terkait, juga memberikan ketegasan kepada toko di Kota Tepian untuk melarang penjualan lem merk Rajawali, karena lem ini yang paling sering digunakan untuk ngelem. “Pak Masrullah (Kabag Humas), tolong sampaikan ini ke Pak Hermanto (Pj Sekkot) untuk membuat edaran larangan ini,” ucap Jaang saat meninjau Taman Tepian depan Islamic Centre.

Jaang mengaku prihatin terhadap kasus ngelem di kalangan anak anak hingga remaja termasuk pelajar. “Keseringan ngelem bisa mempengaruhi kemampuan berpikir, jadi linglung. Kalau ditanya, jawaban tidak nyambung,” tegasnya.

Ngelem lebih bahaya daripada sabu karena memiliki efek jangka pendek yang bisa menghancurkan syaraf otak. Karena itulah Jaang melarang toko di Samarinda menjual lem Rajawali. “Begitu pula terhadap penjualan lem merk lainnya juga diawasi. Pembelinya harus dicatat, tidak boleh anak anak,” tegasnya.

Sementara Kepala Satpol PP Aji Syarif Hidayatullah mengatakan pihaknya cukup sering menangkap anak anak ngelem, namun masih belum mampu menekan kasus ini. “Tapi kami akan terus berupaya melakukan itu,” tegas Dayat, sapaan akrabnya. (man/ms315)

baca LAINNYA