Home >> Bontang - Kutim >> Sembilan Kelurahan Rawan Bencana Banjir
WAKIL Wali Kota Bontang Basri Rase saat meninjau banjir
WAKIL Wali Kota Bontang Basri Rase saat meninjau banjir

Sembilan Kelurahan Rawan Bencana Banjir

Kota Bontang Berkontur Lebih Rendah dari Daerah Sekitar

BONTANG – BPBD Bontang mencatat sebanyak 9 kelurahan masuk kategori wilayah berpotensi banjir saat musim hujan. Angka tersebut didapat setelah BPBD melakukan pemetaan kawasan rawan banjir untuk langkah antisipasi.
Dari pemetaan yang dilakukan, bencana banjir yang berpotensi terjadi terdiri dari tiga jenis, yakni banjir kiriman, banjir tadah hujan, dan banjir rob atau meluapnya air laut ke daratan.
Berdasarkan jenis bencana banjir dari pemetaan tersebut, sembilan kelurahan sebagai wilayah rawan banjir diantaranya Kelurahan Gunung Telihan, Kanaan, Gunung Elai, Api-Api, Satimpo, Guntung, Tanjung Laut, Tanjung Laut Indah, Bontang Kuala.
“Kami sudah tetapkan sembilan kelurahan itu masuk sebagai kawasan rawan banjir di Kota Bontang,” ujar Kepala BPBD Bontang, Ahmad Yani.
Sementara untuk langkah antisipasi yang dilakukan, BPBD menempatkan setiap tim pada masing-masing wilayah tersebut, guna melakukan pemantauan secara berkala terhadap kondisi terkini di wilayah yang rawan bencana banjir.
“Kami tempatkan tim, dan nanti baru akan tindaklanjuti dengan langkah antisipasi lanjutan,” tambahnya.
Sementara, Kepala Bidang Pengendalian dan Pengawasan Bangunan, Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Bontang, Usman menambahkan, Bontang rawan bencana banjir lantaran masifnya aktivitas penebangan hutan di daerah Kutai Timur (Kutim) dan kondisi topografi Bontang yang rendah. Selain itu juga disebabkan status daerah tepi pantai, dianggap menjadi biangnya.
Dari analisa tersebut, dia menarik kesimpulan bahwa fenomana banjir yang melanda ini didominasi oleh banjir kiriman dari kawasan hulu, yaitu Kutim dan Kutai Kartanegara (Kukar). “Karena selama ini, banjir itu hanya bertahan dalam hitungan jam atau tidak bertahan lama. Berbeda ketika drainase kita yang kurang baik, biasanya akan fatal. Bisa menginap berhari-hari,” jelas dia.
Proses pengiriman air dari hulu, diakui Usman mengikuti prinsip dasar air, yang akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat rendah. Kutim dan Kukar sebagai daerah hulu, memiliki kontur tanah lebih tinggi. “Sehingga ketika hujan deras, air tersebut akan mengalir ke daerah dengan kontur tanah rendah,” tutupnya. (ram914)