Sepakbola Gagal, Bukti Merosotnya Prestasi

0
3

SAMARINDA – Kegagalan tim sepakbola Kaltim pada PON XIX Jabar mempertahankan medali emas tak sekadar menuai kekecewaan publik sepakkbola Benua Etam, lebih dari itu menurut pengamat sepakbola Kaltim, Slamet Bardianto merupakan kemunduran besar. Hal ini disampaikan Slamet, mantan pengurus PSSI Kaltim di era Harbiansyah Hanafiah saat menjabat Ketua KONI Kaltim itu kepada media ini kemarin.
“Dalam dua pelaksanaan PON sebelumnya di Kaltim tahun 2008 dan di Riau tahun 2012 sepakbola selalu mendapat medali, perunggu dan emas, tapi di Jawa Barat jangankan medali, masuk 4 besar saja tidak. Itu Bukti merosotnyya prestasi sepakbola Kaltim,” papar Slamet. Sepakbola Kaltim yang ditangani pelatih Eddy Simon Badawi, Oddy Bahrun, M Arsyad, Rahmat Hidayat dan H Nanang pada PON 2016 lalu lolos fase grup namun tersingkir di babak 8 besar karena kalah dari Sulsel 0-1. kala itu Adi Nugroho dkk hanya memerlukan hasil imbang untuk lolos semifinal. Sedangkan Sulsel tampil di final namun kalah adu penalti dari tuan rumah 4-5.
Slamet mengungkapkan kalau hasil uji coba membawa pulang gelar juara di Piala Walikota Padang tak berarti kalau gagal meraih medali emas. “Kita tidak tahu pola bagaimana yang mereka lakukan sampai tak mampu menembus semifinal, karena di 2008 dan 2012 dengan persiapan yg hampir sama terbukti mampu meraih medali. “Sepakbola itu cabor bergengsi, kaltim 5 Besar tak lengkap krn sepakbola juara dpt medali emas. Jabar lengkap krn dia juara PON dan sepakbola juara, kaltim tidak bisa bangga krn sepakbola gagal dan prestasinya merosot tajam krn masuk 5 besar tapi tak dapat emas di sepakbola,” ungkapnya.
Dibawah kepemimpinan Yunus Nusi sebagai Ketua Umum Asprov Kaltim, Slamet melihat banyak yg tidak mengerti sepakbola. Hal ini juga harus jadi perhatian. “Mengurus sepakbola tidak mudah, harus paham dan mengerti, tak sekadar jadi pengurus,” tegasnya.
Slamet juga menyoroti turunnya prestasi Kaltim secara keseluruhan karena finis dengan 25 emas meski diposisi 5 Besar.
“Terlepas dari kecurangan tuan rumah, faktanya ada beberapa cabor yg prestasinya turun bahkan saat ditangani pelatihh asing. Jangan lihat posisi 5 Besarnya, lihat medali emasnya brapa yg didapt, itu kualitas olahraganya sebenarnya, bukan hanya kuantitas,” pungkas Slamet. (mar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here