Breaking News
Home >> Samarinda >> Terganjal, Pintu Bendungan Tak Bisa Tertutup Sempurna
Perbaiki Bendungan: Sejumlah pekerja tengah menambal pintu bendungan yang masih menganga akibat terganjal material keras, akibatnya air meluap dan merendam kawasan pemukiman warga di 4 RT.
Perbaiki Bendungan: Sejumlah pekerja tengah menambal pintu bendungan yang masih menganga akibat terganjal material keras, akibatnya air meluap dan merendam kawasan pemukiman warga di 4 RT.

Terganjal, Pintu Bendungan Tak Bisa Tertutup Sempurna

SAMARINDA – Upaya penanggulangan banjir pemukiman warga yang berasal dari bendungan pengendali (bendali) banjir, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Provinsi Kaltim bergerak cepat. Mereka menanggulangi sementara dengan menambal lubang akibat pintu bendali yang tak bisa tertutup sempurna. Hingga Rabu sore, pekerjaan masih berlangsung. Selembar terpal lebar dipasang di bagian dalam pintu untuk menutup celah pintu setinggi 35 sentimeter (cm).
Sebelumnya, petugas bendali banjir di Jalan HM Ardans terpaksa membuka pintu bendungan. Tingginya curah hujan sehari sebelumnya membuat debit air terus meninggi hingga nyaris melebihi tembok pembatas, Selasa (29/11). Ini dilakukan agar ketinggian air dalam bendali tetap normal.
Akibat dibukanya pintu bendali, air merendam kawasan pemukiman yang ada di sekitarnya. Sedikitnya 500 warga Kelurahan Air Putih yang tinggal di 4 RT dievakuasi. Banjir merendam pemukiman tak lama setelah pintu bendali dibuka. Secara perlahan, banjir terus meninggi hingga mencapai lutut orang dewasa.
“Saat hujan lebat sehari sebelumnya, dalam 3 jam air di bendali sudah naik semeter,” kata Konsultan Manajemen Sumber Daya Air Dinas PU Kaltim, Eko Wahyudi.
Untuk menjaga debit air dalam bendali tetap normal, petugas berinisiasi mengurangi dengan membuka pintu air. Sial, saat hendak menurunkan kembali pintu air, ternyata tak bisa tertutup secara sempurna. Pintu air terganjal material keras yang menyebabkan celah dan air tetap mengalir.
“Kemungkinan ada kayu atau material keras masuk ke dalam trash track (jalur keluar sampah dari pintu pengendali banjir) dan mengganjal pintu menyababkan ada celah, jadi pintunya tidak bisa menutup sempurna,” kata dia.
Eko menuturkan akibat celah setinggi 35 centimeter dengan lebar 2 meter itulah yang menjadi penyebab air dari bendungan tak bisa dihentikan. Air keluar dengan debit tinggi, yang akhirnya merendam beberapa wilayah di Samarinda.
Lanjut dikatakannya, sebelum pintu dibuka ketinggian air di pintu bendungan terpantau mencapai 6 meter, Rabu (30/11) siang. Pada sore harinya, ketinggian air tersisa 2,8 meter. Kendati ketinggian air telah berkurang, namun air masih keluar meskipun dengan debit yang relatif lebih rendah.
“Masih mengalir tapi kecil sekali, karena tidak keseluruhan pintu tertutup rapat, air mengalir melalui celah-celah yang ada,” katanya.
Secara teknis, pintu pembuangan air di bendali terdiri dari susunan lima plat baja, masing-masing tingginya 1,2 meter. Secara keseluruhan pintu bendali setinggi 6 meter. Material keras itu mengganjal antara plat kedua dan ketiga.
Jadi, celah yang menganga berada di ketinggian 2,4 meter. Karena ketinggian air masih di atas pintu air, mencapai 2,8 meter, sehingga air masih bisa menerobos keluar bendali.
Lebih lanjut Eko setelah menutup celan di pintu pembungan selesai dikerjakan, selanjutnya akan dilakukan pengurasan agar bisa mengakses material yang mengganjal pintu tersebut. Setelah rampung, bendungan dijamin bisa berfungsi secara normal kembali.
“Bangunan ini memang didesain untuk bendungan pengendali banjir, kapasitasnya bisa menampung sampai 400 ribu meter kubik, dan mekanisme buka tutup pintu air itu memang ada dan wajar. Soal air yang sampai meluap ke jalan itu baru pertamakali terjadi, dan semoga tidak terulang kembali,” pungkasnya. (rs616)